Post Warung Kopi dan Lipstick Effect

Iksan K. Sahri saat nongkrong menikmati kopi di sebuah kafe di Surabaya.
Sumber :
  • Dokumen pribadi Iksan K. Sahri

TERDAPAT sebuat pertanyaan sederhana, “kenapa saat ekonomi sedang tertekan, kafe-kafe makin ramai bahkan warung kopi pun terus bertumbuh?” Menurut nalar, seharusnya jika ekonomi tertekan orang akan melakukan saving dan berusaha untuk menghemat uang. Kenyataannya orang-orang malah melakukan spending money. Lalu bagaimanakah menjelaskan fenomena ini?

Untuk menjawab hal ini maka kita bisa memakai teori Lipstick Effect yang ditemukan oleh Mcdonald dan Dildar (2020). Dalam risetnya, mereka menemukan bahwa tatkala terjadi resesi ekonomi pada tahun 2007 di Amerika, belanja kosmetik pada perempuan usia 18-40 justru meningkat. Peningkatan itu menurut mereka terjadi bukan dikendalikan oleh keinginan untuk bertemu pasangan baru atau mencari pekerjaan. Hal yang menarik, walau belanja kosmetik meningkat, di saat bersamaan belanja terhadap barang yang lebih mahal seperti pakaian justru menurun. Hal ini menunjukkan bahwa para perempuan mengompensasi tekanan ekonomi dengan belanja barang yang lebih murah dibandingkan dengan membeli barang yang lebih mahal hanya untuk memanjakan diri mereka sendiri.

Lalu bagaimana teori ini kita kontekskan pada fenomena menjamurnya kafe-kafe dan bahkan belakang ini menjamurnya warung kopi-warung kopi di Indonesia? 

Tekanan ekonomi pada Masyarakat Indonesia yang terus berlanjut seperti yang terlihat pada laporan Mandiri Institute yang menyatakan bahwa jumlah kelas menengah Indonesia turun dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025. Proporsinya terhadap total penduduk turun dari 17,1 persen menjadi 16,6 persen, dan di saat yang sama, kelompok aspiring middle class (AMC) melonjak 4,5 juta jiwa dan kini mencakup 50,4 persen populasi. Artinya, lebih dari separuh warga Indonesia hidup tepat di bawah ambang kelas menengah. Mereka dinilai cukup dekat untuk naik, namun rentan untuk jatuh kembali. Masyarakat Indonesia saat ini dihadapkan pada persepsi pelemahan mata uang, naiknya BBM, pekerjaan yang sulit, dan ancaman PHK yang menganga lebar.

Kembali lagi pada pertanyaan awal, bagaimana kafe-kafe itu tetap ramai dan bahkan warung kopi juga ikutan ramai. Menggunakan teori Lipstick Effect, hal tersebut terjadi karena keadaan yang dapat mewakili kerentanan ekonomi masyarakat saat ini. Dibanding membeli rumah yang semakin tidak terjangkau atau jalan-jalan ke luar negeri yang semakin mahal, masyarakat justru melampiaskannya dengan nongkrong di kafe-kafe yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Seperti kata teman penulis, “yang jual rumah banyak hanya duitnya saja yang tidak banyak”. Sebuah statemen candaan tapi mengandung kebenaran yang serius. 

Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan sekitar 98% rekening masyarakat Indonesia memiliki saldo di bawah Rp100 juta, dengan rata-rata nominal hanya sekitar Rp1,7 juta per rekening. Sebuah keadaan yang mengindikasikan bahwa uang mereka hanya bisa dipakai ke kafe dibanding beli rumah atau pergi ke luar negeri. Hari ini masyarakat lebih memilih untuk menunda pembelian barang mahal dan beralih ke "kemewahan kecil" yang terjangkau. Secangkir kopi atau nongkrong di kafe menjadi cara murah untuk melepas stres dan memberi penghargaan pada diri sendiri (self-reward).

Hal yang menarik lagi adalah bahwa warung kopi belakang ini juga ikut menjamur dan cenderung menjadi lebih besar dari sebelumnya. Di Surabaya, misalnya fenomena Warkop STK (Sedulur Tuggal Kopi) yang membuka warkop di banyak titik di Surabaya memberikan sinyal bahwa warung kopi hari ini menuju pada satu titik tersendiri dibanding warung-warung kopi pada masa sebelum ini. Akan tetapi, fenomena STK hanya awal saja. Pada level yang sedikit berbeda, muncul pula Warkop Bening yang juga sudah punya beberapa cabang di kota Surabaya. Warkop Bening berbeda dengan STK yang masih mempertahankan tampilan tradisional warkop dengan bangku-bangku panjang, Bening tampil lebih kekinian dengan menyediakan tempat duduk yang lebih nyaman dengan ruangan ber-AC serta menu yang lebih variatif. Harga-harganya relatif lebih mahal dari STK dan warung kopi pada umumnya di Surabaya, tapi juga lebih murah dibanding kafe kebanyakan. 

Senada dengan Warkop Bening, sekarang muncul pemain baru di Surabaya membawa merek Warkop Sentral yang ada Jl. A. Yani. Konsepnya mirip dengan Warkop Bening. Hanya saja, fenomena Post Warung Kopi ini membuka fenomena yang lebih pahit, yaitu bahkan untuk sekedar ke kafe saja bagi warga Surabaya hari ini terasa lebih mahal.

 

 

Penulis adalah dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, penikmat kopi.