Batoro Katong, Pendiri Ponorogo dari Kesultanan Demak (2)

Makam Batoro Katong di Kabupaten Ponorogo.
Sumber :
  • Nur Faishal/Viva Jatim

Jatim – Disebutkan dalam buku Jejak Sejarah NU Ponorogo susunan Krisdianto dkk yang diterbitkan Litbang PCNU Ponorogo, Batoro Katong adalah adik dari Raden Patah yang saat itu memimpin Kesultanan Demak, kerajaan Islam yang didirikan atas kesepakatan Wali Songo. Batoro Katong diutus Raden Patah untuk membantu Ki Ageng Mirah, yang diyakini sebagai penyebar agama Islam pertama di Wengker, pusat pemerintahan yang sudah ada sejak awal di Ponorogo.

Mengutip penjelasan Moelyadi dalam Ungkapan Sejarah Kerajaan Wengker dan Reyog Ponorogo, Krisdianto dkk menulis bahwa dahulunya daerah Ponorogo dikenal dengan Kerajaan Wengker yang ada sejak abad 6 Masehi. Bukti keberadaan Kerajaan Wengker diketahui dari prasasti yang ditemukan di Sendang Kamal, Madiun. Prasasti bertarikh 987-1037 Masehi itu melaporkan adanya Kerajaan Wengker yang dipimpin Kettu Wijaya. Waktu itu, Wengker bagian dari wilayah kekuasaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu.

Pada era Airlangga yang memimpin Kerajaan Kahuripan, Kerajaan Wengker disegani. Ketika Kerajaan Majapahit berkuasa, Wengker mengakui dan tunduk pada Kerajaan Majapahit sebagai penguasa Jawa dan Nusantara. Pada masa akhir Kerajaan Majapahit, Kerajaan Wengker dipimpin oleh seorang Demang bernama Ki Gede Ketut Suryongalam atau Ki Ageng Suryongalam. Menurut Soemarto dalam Menelusuri Perjalanan Reyog Ponorogo, Ki Ageng Suryongalam lah yang membuat kesenian bernama Reyog atau Reog sebagai sindiran terhadap gaya kepemimpinan Raja Majapahit, Brawijaya V.

Nah, di masa Ki Ageng Suryongalam inilah muncul tokoh penyebar agama Islam di Wengker bernama Ki Sidiq Muslim atau Ki Ageng Mirah. Dia juga menggunakan nama samaran Ki Ageng Honggojoyo agar bisa diterima masyarakat Wengker yang saat itu kental dengan keyakinan Hindu-Buddha. Ki Ageng Mirah adalah putra dari Ki Ageng Gribig yang sanadnya disebut tersambung ke Sunan Giri. Ki Ageng Mirah mudah diterima lalu mengajarkan Islam dengan sarana masjid dan pondok berbentuk angkringan.

Kehadiran Ki Ageng Mirah rupanya tidak disenangi Ki Ageng Honggolono, adik seperguruan Ki Ageng Suryongalam. Singkat cerita, Ki Ageng Mirah terlibat perselisihan hingga usaha dakwah Islamnya di Mirah, Wengker, menemukan kegagalan. Dia kemudian meminta bantuan kepada Kesultanan Demak, kekuatan baru bercorak Islam di Tanah Jawa di masa akhir Kerajaan Majapahit. Raden Patah selaku pemimpin Kesultanan Demak kemudian mengutus Batoro Katong ke Wengker untuk membantu Ki Ageng Mirah.

Datang ke Wengker, Batoro Katong didampingi Patih Seloaji dan rombongan pasukan. Setibanya di Wengker, dia disambut Ki Ageng Mirah. Batoro Katong kemudian membuka hutan di Glagah Wangi untuk membangun kekuatan. Di sana, Ki Ageng Mirah menceritakan kekuasaan Wengker di bawah kepemimpinan Ki Ageng Suryongalam yang terbagi menjadi beberapa bagian. Di sebelah barat dipimpin Ki Ageng Hanggolono, di timur dipimpin Surogentho dan Singokubro dan sebelah selatan dipimpin Suromenggolo.

Di Wengker, Batoro Katong kemudian mendirikan Kadipaten Pramanagara. Purwowijoyo dalam Babad Ponorogo Jilid I: R.A Surodiningrat sebagaimana ditulis di Jejak Sejarah NU Ponorogo, menyebutkan, kata pramana berarti menyatukan sumber cahaya Matahari, bulan dan bumi yang berpengaruh pada kehidupan manusia. Sementara kata pana artinya mengerti dan kata raga artinya badan. Bila digabung, kata pramanaraga mengandung makna orang yang dapat menempatkan dirinya di hadapan orang lain. Lama-lama pengucapan Pramanagara berubah dan sekarang dikenal dengan Ponorogo. (Bersambung)