Mengenal Ezekiel Shawn Wondo, Peraih Medali Emas dan Grand Award ISRC 2025

Ezekiel Shawn Wondo
Sumber :
  • Istimewa

Surabaya, VIVA Jatim-Riset dengan judul "Mathematical Approach to Sustainability: Modelling and Feasibility Study of Renewable Energy via Mixed Integer Linear Programming” yaitu tentang energi terbarukan membawa Ezekiel Shawn Wondo menyabet medali emas dan Grand Award pada ajang Indonesia Student Research Competition (ISRC) 2025 yang berlangsung di Bandung pada 24 hingga 27 april 2025.

img_title Sebanyak 618.479 Murid Baru di Jatim Ikuti MPLS Mulai 13 Juli, Dindik Larang Perpeloncoan

Peserta dari kompetisi ini siswa SMP, SMA dan sederajat seluruh Indonesia yang diselenggarakan oleh Indonesia Scientific Society (ISS) dengan dukungan SEAMEO Qitep in Science (SEAQIS) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek).

Perjuangan Ezekiel meraih medali emas tidaklah mudah. Ia harus menjadi yang terbaik dari 500 lebih peserta yang mengirimkan research paper. Jumlah tersebut kemudian dipilih 60 research paper.

img_title Khofifah Sebut Proses Penjaringan Siswa Sekolah Rakyat di Jatim Berjalan Lancar

"Ada tiga kategori, saya mengikuti teknik dan teknologi jenjang SMA. Dua lainnya, sosial dan science,” ujarnya, dalam keterangannya, Selasa, 21 Mei 2025.

Ia mengungkapkan penelitiannya tentang meningkatkan feasibilitas energi terbarukan. Dari sini ia ingin memberikan kontribusi dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mengurangi dampak lingkungan.

img_title Kunjungi UMSURA, Kepala BRIN: Kampus Harus Hasilkan Inovasi, Bukan Sekadar Jurnal Ilmiah

Ia menjelaskan, riset tersebut berkaitan tentang optimalisasi sistem di mana menggunakan renewable energi atau energi terbarukan untuk mengurangi listrik dari jaringan utama.

Model ini menggunakan MILP (Mixed Integer Linear Programming) dengan lokasi yang dipilih di Sintang, Indonesia.

“Yang melatar belakangi saya adalah permasalahan lingkungan, tetapi yang saya lihat adanya peluang energi terbarukan yang menggunakan microgrid. Yang terdiri dari panel surya dan turbin angin,” ia menambahkan.

Ezekiel mengambil sampel data pada tahun 2020, terkait solar irradiasi matahari dan kecepatan angin. Dalam riset ini, irradiasi dan kecepatan angin yang berbeda-beda setiap harinya menjadi sebuah tantangan.

“Misalnya hari ini mendapat 10 energi dari microgrid, tetapi kebutuhannya hanya 5. Nah sisa lima bisa dimasukan ke baterai untuk dipakai malam hari. Begitu pula jika hari berikutnya dari renewable energi cuma 3 tapi kebutuhan 5 jadi ambil dari jaringan utama 2. Jadi meminimalkan penggunaan dari jaringan utama, economical friendly,” jelasnya.

Penerapan riset ini disebutnya dapat diaplikasikan di semua daerah, tidak terbatas pada kawasan Sintang.

Halaman Selanjutnya
img_title