Kembali ke Buku: Menjaga Nalar lewat Literasi di Era Scroll Tanpa Henti

Smartphone layar gulung akan segera hadir
Sumber :
  • viva.co.id

Surabaya, VIVA Jatim – Di tengah derasnya arus informasi dari layar-layar ponsel, manusia modern dihadapkan pada pilihan: terus menggulir layar atau berhenti sejenak dan membuka lembar demi lembar buku.

img_title Bazar Buku Internasional Big Bad Wolf Books 2026 di Surabaya, Hadirkan Lima Juta Buku

Era digital menawarkan akses pengetahuan tanpa batas, tetapi sekaligus menciptakan paradoks: ketersediaan informasi yang melimpah justru mengancam kedalaman berpikir. Inilah saat yang genting bagi nalar. Dan buku hadir sebagai ruang sunyi untuk merawatnya.

Riset dari We Are Social (2024) mencatat bahwa rata-rata waktu screen time harian pengguna internet di Indonesia mencapai lebih dari 8 jam, sebagian besar untuk media sosial. Sementara itu, indeks minat baca masyarakat Indonesia tergolong rendah, yakni 0,001 menurut UNESCO—yang berarti hanya 1 dari 1.000 orang yang benar-benar gemar membaca buku secara serius.

img_title Kasus Arisan Online Bodong Rp71 Miliar, Polda Jatim Bakal Periksa Selebgram Hingga Artis

Kondisi ini berpotensi melahirkan generasi yang serba instan: gemar judul, malas mendalami isi; cepat menyimpulkan, jarang menyelami konteks.

Membaca buku berbeda dengan membaca di layar ponsel. Buku menuntut fokus, kesabaran, dan ketekunan. Saat membaca buku, seseorang melatih otaknya untuk membentuk pola berpikir yang sistematis dan reflektif.

img_title Polda Jatim Ungkap Kasus Arisan Online Bodong Senilai Rp71 Miliar

Penulis dan ahli sastra Goenawan Mohamad pernah menyebut bahwa “buku melatih kita untuk tidak sekadar tahu, tetapi mengerti.” Sementara Yuval Noah Harari, penulis Sapiens, menyampaikan dalam berbagai forum bahwa membaca buku adalah cara untuk memahami proses berpikir jangka panjang, bukan hanya merespons kejadian saat ini.

Nalar yang Dirawat Melalui Buku

Nalar yang sehat adalah fondasi bagi masyarakat yang berpikir kritis dan demokratis. Buku membantu menumbuhkan itu. Buku sejarah membentuk kesadaran historis, buku filsafat melatih logika dan etika, dan buku sastra memperluas empati serta kepekaan terhadap kemanusiaan.

Kebiasaan membaca juga berdampak pada kemampuan menulis, berbicara, bahkan memimpin. Tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Hatta, hingga Tan Malaka dikenal sebagai pembaca rakus sejak muda. Mereka bukan hanya meminjam semangat dari buku, tetapi juga membentuk karakter kepemimpinan dari sana.

Meskipun tantangan besar datang dari teknologi, bukan berarti buku harus ditinggalkan. Bahkan, kini tersedia beragam platform buku digital seperti iPusnas, Perpusnas Digital, Google Books, dan Scribd. Podcast dan audiobook juga menjadi jembatan yang mempertemukan generasi digital dengan bahan bacaan.

Halaman Selanjutnya
img_title