Tanean Lanjhang: Filosofi Hidup Orang Madura yang kian Tergerus Zaman

Rumah Adat Madura konsep Tanean Lanjhang
Sumber :
  • Istimewa

Sumenep, VIVA Jatim – Di balik kesan tegas dan berani yang sering dilekatkan pada orang Madura, tersembunyi sebuah sistem sosial yang sarat makna dan kearifan lokal: tanean lanjhang. Istilah ini bukan sekadar merujuk pada tata letak permukiman keluarga, tetapi mencerminkan pola relasi sosial, spiritualitas, hingga pandangan hidup masyarakat Madura.

img_title Madura United Rencanakan Gelar Pemusatan Latihan di Yogyakarta

Dalam bahasa Madura, tanean berarti pekarangan atau halaman rumah, sedangkan lanjhang berarti panjang. Maka secara harfiah, tanean lanjhang berarti halaman panjang—yaitu kompleks rumah keluarga besar yang dibangun memanjang dari utara ke selatan, dipimpin oleh seorang kiai atau tokoh sepuh keluarga.

Biasanya, rumah-rumah ini ditempati oleh anak-anak dan menantu yang telah menikah, sehingga membentuk satu komunitas kecil yang masih memiliki ikatan darah dan nilai-nilai bersama.

img_title Ngaji Talabtaban

Struktur Sosial yang Sarat Makna

”Tanean lanjhang adalah miniatur masyarakat Madura,” ujar Dr. Achmad Zaini, peneliti budaya Madura dari Universitas Trunojoyo Madura, dalam tulisannya di Jurnal Kebudayaan Madura (2020).

img_title Update Korban KMP Mutiara Sentosa 2 Terbakar di Madura: 5 Tewas 227 Selamat

Menurutnya, di dalam tanean lanjhang, terlihat nilai-nilai penting masyarakat Madura: seperti hormat kepada orang tua, solidaritas antar saudara, serta peran sentral tokoh agama atau kiai dalam membimbing keluarga.

Setiap rumah biasanya memiliki fungsi dan peran. Rumah paling utara biasanya ditempati oleh orang tua atau anak sulung yang dianggap sebagai penerus tanggung jawab.

Di sanalah pusat spiritual dan keputusan keluarga. Struktur ini tidak hanya bersifat fisik, melainkan juga simbolis: utara sebagai arah kiblat, dan selatan sebagai simbol hubungan sosial ke luar.

Dalam konteks sosial, sistem ini menciptakan jaringan solidaritas yang kuat. Pertanian dikelola bersama, hasil dibagi, dan setiap peristiwa seperti kelahiran, kematian, maupun pernikahan ditangani secara gotong royong.

Nilai ini sejalan dengan ajaran Islam tentang persaudaraan dan musyawarah, yang selama ini menjadi bagian dari identitas Nahdlatul Ulama (NU) di Madura.

Tergerus oleh Zaman

Namun kini, tanean lanjhang makin jarang dijumpai. Urbanisasi, pertumbuhan penduduk, dan pergeseran nilai-nilai individualisme telah membuat pola permukiman ini tergeser. Banyak keluarga muda memilih membangun rumah sendiri di luar kompleks keluarga besar karena alasan pekerjaan atau privasi.

Halaman Selanjutnya
img_title