Kisah Petinggi Negeri Bukhara Sebentar-sebentar Berdiri karena Ada Anak Gurunya
- Nur Faishal/Viva Jatim
Surabaya, VIVA Jatim – Di dalam Islam, guru sangat dihormati. Penghormatan terhadap guru ini juga tertanam di lingkungan pesantren di Indonesia. Dalam khazanah pesantren, bahkan apa pun yang berhubungan dengan guru, santri harus menghormatinya. Hatta masyhur cerita santri zaman dulu yang hormat pada kuda, ayam, dan hewan peliharaan sang guru.
Syekh Az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim meneruskan cerita Syekh Burhanuddin tentang penghormatan yang begitu tinggi seorang petinggi Negeri Bukhara terhadap guru dan apa pun yang berhubungan dengannya. Burhanuddin adalah ulama besar Negeri Bukhara bermadzhab Hanafi yang hidup di abad ke-12.
Burhanuddin bernama lengkap Burhanuddin Ali bin Abu Bakar al-Marghinani. Kitab karyanya yang terkenal ialah Al-Hidayah yang berisi tentang Fikih. Di masanya, Negeri Bukhara adalah pusat peradaban Islam di Asia Tengah. Di sana pula lahir periwayat hadis masyhur di dunia Islam, Imam Bukhari. Itu sebabnya ulama dan guru begitu dihormati.
Burhanuddin berkisah, suatu waktu seorang pembesar Bukhara berbaur dengan jemaah di sebuah majelis ilmu. Di tengah-tengah berlangsungnya pengajian, bangsawan tersebut sebentar-sebentar berdiri. Duduk, berdiri, duduk lagi, berdiri lagi, begitu terus beberapa kali. Teman-temannya yang heran lantas bertanya kenapa bertindak demikian.
Petinggi Bukhara itu menjawab: Inna ibna ustaadzii yal’abu ma’a al-shibyani fii al-sikkati faidzaa raaituhu aquumu lahu ta’dhziiman (Sesungguhnya anak dari guruku bermain bersama teman-temannya di jalan. Apabila aku melihatnya, maka aku berdiri sebagai bentuk penghormatan [terhadap guruku].
Dalam cerita lain dikisahkan, suatu waktu Khalifah Dinasti Abbasiyah yang terkenal, Harun al-Rasyid, mengirim putranya kepada seorang guru bernama Ustadz Ashmu’i untuk belajar ilmu dan dididik akhlak terpuji. Pada satu hari, Ustadz Ashmu’i sedang berwudu, membasuh kakinya dengan air yang dituangkan oleh putra Harun al-Rasyid.
Melihat itu, penguasa Dinasti Abbasiyah itu agak kecewa karena putranya setengah-setengah melayani gurunya. Kemudian berkata sang khalifah kepada Ashmu’i: innamaa ba’atstuhu ilaika litu’allimahu wa tuaddibahu falimadzaa lam ta’muruhu bian yashubba al-maa’a bi ihdaa yadaihi wa yaghsila bi al-ukhraa rijlaka.