Cerita Gus Idris Marbawy Kala Cium Tangan Preman Sadis, Kejutkan Banyak Orang

Gus Idris Marbawy
Sumber :
  • Istimewa

Surabaya, VIVA Jatim-Di tengah keramaian pasar malam di sebuah kota kecil di Jawa Timur, sebuah momen menggetarkan jiwa terjadi bukan karena kekerasan, melainkan karena kelembutan hati seorang ulama.

img_title Kiai Imjaz Ungkap Rahasia Kehidupan Keluarga dan Kepemimpinan KH Miftachul Akhyar

Gus Idris Marbawy, dai karismatik yang dikenal dengan pendekatan dakwah yang lembut dan merangkul semua kalangan, melakukan sesuatu yang tak terduga yaitu mencium tangan seorang preman yang dikenal luas karena kekejamannya.

Preman itu, bernama Rahmat. Warga pun sudah mengetahui siapa Rahmat. Dia dikenal sebagai sosok brutal. Dia tak segan menyakiti siapa pun yang menentangnya. Namun hari itu, di hadapan banyak orang, dia duduk bersimpuh di hadapan Gus Idris, yang datang ke wilayah tersebut dalam rangka safari dakwah.

img_title Bersatu Usai Muktamar NU: Selamat Berkhidmah Mengemban Amanah Jam’iyyah

Alih-alih menegur dengan keras atau menyudutkan, Gus Idris justru menghampiri Rahmat, menggenggam tangannya, dan dengan penuh hormat, menciumnya.

Rahmat terharu karena tangannya dicium sosok ulama yang mana banyak orang berebut mencium tangan Gus Idris ini. Namun sebaliknya justru Gus Idris malah mencium tangan kotor preman. Mata para saksi membelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.

img_title Refleksi 4 Abad Syekh Yusuf Al-Makassari, Ulama Nusantara Anti Kolonial dan Warisan Nilai Kebhinekaan

"Ini tangan yang pernah menyakiti banyak orang. Tapi saya yakin, tangan ini juga bisa jadi jalan kebaikan. Saya mencium tangan ini karena saya percaya, siapa pun bisa berubah," ujarnya.

Tindakan Gus Idris membuat Rahmat menangis tersedu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa dihargai bukan karena ditakuti, tapi karena diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik. Sejak hari itu, kehidupan Rahmat berubah. Ia meninggalkan dunia kelam dan mulai aktif membantu dakwah dan kegiatan sosial bersama tim Gus Idris.

Kisah ini menyebar cepat di media sosial, menginspirasi ribuan orang. Banyak yang menyebut tindakan Gus Idris sebagai "tamparan lembut yang menyentuh jiwa".

Sikapnya menunjukkan bahwa kadang, perubahan besar tidak datang dari amarah atau kekuatan, tetapi dari kasih sayang yang tulus dan keberanian untuk memaafkan.