Doa dan Jagung, Tahlilan Unik ala Warga Lamongan
- AI
Lamongan, VIVA Jatim – Udara petang berembus pelan di sebuah dusun kecil di Desa Tlogorejo, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan. Suara serangga malam mengiringi gemuruh lantunan Surat Al Ikhlas yang dibacakan sekumpulan orang di sebuah rumah.
Mereka duduk bersila di atas gelaran tikar, memenuhi ruang tamu sampai tumpah ke teras beratap rendah. Di depan mereka, tersaji hidangan beraneka macam gorengan, kacang rebus hingga camilan kering. Air mineral merek lokal juga tertata rapi di sela sajian.
Tampak pula nampan plastik berisi butiran jagung, dibagi ke dalam dua wadah masing-masing berwarna merah dan biru. Butiran jagung itu tak dimasak, tak pula dijual. Ia ditabur jumput demi sejumput ke telapak tangan para jemaah bagai titipan sunyi dari langit. Satu per satu dihitung, seirama dengan lantunan Surat Al-Ikhlas yang mengalun khusyuk.
Sebuah ritual tahlilan yang tak sekadar tradisi, tapi jelmaan doa dalam rupa sederhana, sarat makna dan cahaya spiritual. Bagi masyarakat Nahdliyin, tahlilan merupakan ritual penting yang menyertai kematian seseorang. Sebuah bentuk penghormatan terakhir dan ikhtiar spiritual untuk mendoakan arwah agar mendapat tempat terbaik di sisi Ilahi Rabbi.
Tahlilan umumnya dilakukan secara bertahap, pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan seterusnya hingga tahunan yang dikenal dengan istilah 'haul'. Namun di sebagian desa di Lamongan, tahlilan memiliki satu elemen unik, yakni tradisi menghitung bilangan bacaan Surat Al-Ikhlas menggunakan butiran jagung.
Doa yang Dihitung dalam Butiran
"Setiap kali selesai membaca satu Surat Al-Ikhlas, kami ambil satu butir jagung," ujar Feri (31), salah satu jemaah tahlilan.
Tidak ada batasan jumlah. Semakin banyak membaca Surat Al Ikhlas, semakin banyak pula jagung yang terkumpul. Kegiatan ini dilakukan di hari pertama dan kedua. Kemudian hari keempat, kelima serta keeanam.
"Malam ketiga dan malam ketujuh, tidak ada zikir fida' [tahlilan hitung jagung]," lanjutnya.
Jagung yang telah dikumpulkan setiap hari tahlilan selanjutnya disimpan secara khusus. Setelah ritual tahlilan hari keenam selesai, jagung-jagung itu akan ditaburkan di atas makam almarhum keesokan.