Gejolak Surabaya setelah Proklamasi Kemerdekaan Bergaung di Jakarta
- AI
Surabaya, VIVA Jatim – Ketika Soekarno membacakan teks proklamasi di Pegangsaan Timur 56, Jakarta, pada Jumat pagi, 17 Agustus 1945, Surabaya masih bergulat dengan ritme hidup di bawah bayang-bayang Jepang.
Di jalan-jalan utama, para serdadu berseragam hijau zaitun masih berjaga, sementara pribumi sibuk mengantre beras serta kebutuhan pokok yang serba terbatas. Tidak diketahui bahwa dari ratusan kilometer jauhnya, sebuah pernyataan bersejarah baru saja mengubah arah bangsa.
Namun, kabar itu tidak butuh waktu lama menembus batas kota. Lewat siaran radio gelap, pamflet salinan tangan, hingga bisikan dari aktivis pemuda, berita tentang kemerdekaan Indonesia menyebar cepat di seantero Kota Surabaya.
Suasana yang semula muram perlahan berganti dengan euforia. Warga berbisik di warung kopi, para pemuda bergegas merapat ke markas organisasi, sementara bendera merah putih mulai dijahit secara sederhana di sudut-sudut kampung.
Hari-hari setelah proklamasi menjadi titik balik. Surabaya mendadak hidup dengan semangat baru. Meski ancaman Jepang belum benar-benar pergi dan tentara Sekutu sedang bersiap datang, denyut kota tak lagi sama.
Gaung proklamasi yang berkumandang di Jakarta seakan menjalar hingga menggetarkan setiap lorong Surabaya. Sebuah gema yang memantik tekad untuk benar-benar merdeka, meski jalan ke depan penuh perlawanan kucuran darah.
Serdadu-serdadu Negeri Matahari Terbit tetap bersikap tegas, seolah tidak terjadi apa-apa di Jakarta. Mereka berusaha mempertahankan wibawa dengan patroli bersenjata, memaksa rakyat menunduk dan menebar rasa takut agar kota tetap terkendali.
Namun di balik sikap keras itu, kegelisahan tak bisa disembunyikan. Kabar jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki sudah lebih dulu sampai ke telinga rakyat Surabaya. Jepang yang selama ini tampak perkasa, mendadak terlihat rapuh. Tentara yang dulu digdaya kini berjalan dengan wajah muram, gerak-geriknya canggung, seakan menyadari kekuatan mereka tinggal menunggu keruntuhan.
Rakyat Surabaya membaca perubahan itu dengan jeli. Mereka tahu, di balik senapan dan gertakan, tentara Jepang tengah digerogoti rasa putus asa. Maka ketika gaung proklamasi kemerdekaan mulai sampai ke Surabaya, semangat rakyat segera membuncah. Mereka tak lagi sekadar hidup dalam bayang-bayang penjajahan, melainkan mulai berani menatap masa depan yang merdeka.