Tradisi Rebo Wekasan di Desa Suci, dari Masa Sunan Giri hingga Kini
- Tofan Bram Kumara/Viva Jatim
Gresik, VIVA Jatim – Warga Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, menggelar acara Rebo Wekasan dalam rangka Hari Jadi Desa Suci ke-634 pada Senin, 18 Agustus 2025, malam. Di desa ini, tradisi Rebo Wekasan sudah ada sejak masa Sunan Giri dan tetap lestari hingga kini.
Rebo Wekasan adalah tradisi yang dilakoni masyarakat sejak lama di sejumlah daerah, terutama di Pulau Jawa. Biasanya dilaksanakan di hari Rabu terakhir bulan Safar. Tradisi ini dikaitkan dengan ritual penolak bala. Semacam doa kepada Tuhan agar dijauhkan dari mara bahaya dan kasialan di tengah-tengah masyarakat.
Ekspresi yang ditunjukkan dalam tradisi Rebo Wekasan berbeda-beda antara satu dengan daerah lain. Di Desa Suci, tradisi ini diekspresikan dengan kirab tumpeng raksasa, yang diarak menuju tempat para warga berkumpul untuk berdoa dan beramah-tamah.
Pada Senin malam, tumpeng raksasa setinggi 1 meter yang berisi makanan hasil bumi itu diarak dari balai desa ke Masjid Mambaut Tho’ah. Di sana, sejumlah pejabat dan warga setempat berkumpul.
Total ada 25 tumpeng disajikan di masjid, termasuk tumpeng raksasa yang diarak. “Dua di antaranya tumpeng raksasa,” kata Kepala Desa Suci, Achmad Rizal. “Agar masyarakat Desa Suci selalu dalam lindungan Allah, diberikan ketentraman, kerukunan, dan kesejahteraan semuanya.”
Berdasarkan keterangan di laman resmi Desa Suci, desasuci.gresikkab.go.id, Rebo Wekasan di Desa Suci adalah tradisi tertua di Nusantara. Tradisi ini sudah ada di SDesa Suci sejak tahun 1483, atas instruksi Sunan Giri (Wali Songo) melalui muridnya, Syekh Jamaluddin Malik, yang menyebarkan Islam di Desa Suci yang berpusat di Kampung Polaman Timur.
Asal-usul tradisi Rebo Wekasan di Desa Suci itu berkesesuai dengan informasi di situs-situs bersejarah di Manyar, Gresik, seperti Sumur Gede, masjid, telaga, dan lain-lain. Tradisi Rebo Wekasan kemudian menjalar ke desa-desa lain di Gresik dan lestari hingga sekarang.
Tidak hanya di Gresik, tradisi serupa juga dilaksanakan masyarakat di daerah lain di Pulau Jawa, terutama di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa. Cuma namanya berbeda-beda, seperti Sedekah Ketupat, Sedekah Kupat, Safaran, Rebo Pungkasan, dan lain-lain.