Ada Hantu Laut di Biennale Jatim XI, Kritik atas Krisis Ekologi
- Tofan Bram Kumara/Viva Jatim
Gresik, VIVA Jatim – Pameran seni rupa dua tahunan terbesar di Jawa Timur, Biennale Jatim XI 2025, digelar di Pudak Galeri, Kabupaten Gresik, dan dibuka pada Minggu, 14 Agustus 2025 malam. Sejumlah seniman, dalam maupun luar negeri, ikut serta dalam ajang kesenian bergengsi ini.
Biennale Jatim kali ini mengusung tema Menyongsong Hantu Laut, sebuah refleksi atas tantangan zaman, khususnya di wilayah pesisir. Tema ini terinspirasi dari kapal seorang nelayan di pesisir Gresik yang bersandar bertuliskan hantu laut.
Itu bisa ditafsirkan sebagai simbol ketidakpastian, krisis ekologi, serta perubahan sosial budaya yang tengah berlangsung di masyarakat.
Melalui pendekatan seni, seniman muda asal Gresik, Fatwa Amalia, terpilih sebagai salah satu partisipan utama, bersanding dengan sejumlah nama besar dari dalam dan luar negeri.
Sejumlah seniman internasional yang turut ambil bagian pada ajang ini, antara lain, Lisette Ross (Amsterdam), Satsuki Imai (Tokyo), Ryuichi Sakazaki (Fukuoka), Terae Keiichiro (Seoul), Artcom (Kazakhstan), Dam-Dam Collective (Amsterdam), dan Yawen Fu (Taiwan/Amsterdam).
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Biennale Jatim dan didukung Pemerintah Kabupaten Gresik. Ajang ini menjadi momentum penting bagi seniman lokal dan internasional. Pembukaan dihadiri Direktur Jenderal Pengembangan Pemanfaatan Pembinaan Kebudayaan RI Ahmad Mahendra.
Selain itu, hadir pula perwakilan Dinas Pariwisata Jawa Timur Evy, Kepala BP3 Wilayah 11 Endah Budi Heryani, Ketua Dewan Kebudayaan Gresik Irfan Akbar serta puluhan seniman dan budayawan dari dalam dan luar negeri.
Kehadiran Biennale Jatim XI di Gresik diharapkan menguatkan jejaring kebudayaan, membuka ruang kolaborasi lintas negara, serta meneguhkan posisi Jawa Timur, khususnya Gresik, sebagai salah satu pusat pertumbuhan seni rupa di Indonesia.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengapresiasi terselenggaranya Biennale di Gresik. Ia menilai, kegiatan ini tidak hanya memperkaya ruang ekspresi seni, tetapi juga memperkuat identitas budaya daerah.
“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menggagas acara ini. Karya-karya yang ditampilkan sungguh luar biasa. Gresik kini tidak hanya dikenal sebagai kota industri dan sejarah, tetapi juga sebagai tanah kelahiran seniman yang mampu tampil di panggung global,” ujar Bupati Gresik.