Sekol dan Cerita Lucu Sekul
- Ardhia Nesya/Cookpad
Sumenep, VIVA Jatim – Andai tak disertai foto, Anda pasti banyak tak tahu makanan bernama sekol atau skol. Tapi kalau serundeng, sudah pasti banyak yang tahu kuliner berbahan dasar kelapa parut itu. Sekol adalah nama Madura dari penganan serundeng.
Bagi orang Madura, sekol adalah serundeng kelapa parut. Hanya kelapa parut yang digoreng. Orang Madura baru menyebut serundeng kalau itu serundeng daging, sekol yang ditaburkan di masakan olahan daging, atau sekol pelengkap lalapan ayam atau bebek goreng di lapak-lapak PKL.
Sekol, eh serundeng, khas Madura rasanya gurih dan khas. Disebut khas karena ada asin-asinnya dan ada manis-manisnya, bercampur jadi satu. Teksturnya agak renyah di lidah. Warnanya oranye kegosong-gosongan.
Aromanya juga khas. Menggugah selera. Makan nasi hanya berlauk sekol pun, bagi penulis, rasanya nikmat dan lahap. Apalagi bila dipadu dengan lauk daging semur atau telur bumbu bali, atau udang goreng.
Kalau Anda pernah makan di Rumah Makan Bu Rudi, Anda pasti tahu serundeng kelapa yang jadi menu khas rumah makan kesohor tersebut. Biasanya, di Bu Rudi, serundeng disajikan pada menu Nasi Madura. Kira-kira seperti itulah wujud dan rasa sekol atau serundeng khas Madura.
Di Madura, sekol adalah salah satu kuliner wajib di setiap hajatan besar, seperti pernikahan dan selamatan lainnya. Terutama di Kabupaten Sumenep. Sekol disajikan dengan mie goreng, daging semur, ayam kampung kuah santan, acar, daging kuah kuning, perkedel, dan telur.
Lain sekol lain sekul. Kalau sekul, giliran orang Madura yang banyak tak tahu. Tapi bila ditunjukkan fotonya, mereka pasti mengangguk-angguk: O, itu nasi. Ya, sekul adalah nama Jawa dari nasi.
Ada cerita lucu tentang sekul dan orang Madura. Cerita ini menyebar luas di kalangan mahasiswa, terutama di kalangan mahasiswa asal Madura yang kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya. Cerita tersebut tak hilang-hilang karena diteruskan dari mulut ke mulut lintas angkatan.
Ceritanya, dulu di tahun 1990-an, ada mahasiswa asal Madura yang kuliah di UIN (dulu IAIN) Sunan Ampel Surabaya. Ia indekos di kampung belakang kampus di Jemurwonosari. Di awal kuliah, ia awam bahasa Jawa. Karena itu, bahasa yang sering ia pakai berkomunikasi dengan mahasiswa non Madura adalah Bahasa Indonesia.