Berbagi Sembako di Momen Sembahyang Arwah di Klenteng Tjoe Tik Kiong
- Madchan Jazuli/Viva Jatim
Tulungagung, VIVA Jatim – Umat Buddha di Kabupaten Tulungagung melaksanakan ritual Sembahyang Arwah dan Ulambana di Klenteng Tjoe Tik Kiong. Momen tersebut juga dijadikan waktu yang tepat berbagi ribuan paket sembako kepada masyarakat umum.
Ritual arwah dan Ulambana adalah ibadah tahunan yang dilakukan umat Buddha, juga sebagian masyarakat Tionghoa, biasanya puncak pelaksanaannya pada bulan ketujuh kalender Imlek.
Di Tulungagung, ritual ini kian khidmat karena digelar di klenteng tua berusia lebih dari satu abad, Tjoe Tik Kiong. Berdiri sejak tahun 1866, klenteng legendaris di Kabupaten Tulungagung ini berada di Kelurahan Kampungdalem.
Ketua Panitia Sembahyang Arwah Kelenteng Tjoe Tik Kiong, Wibitono, menerangkan bahwa sembahyang ini rutin diadakan setiap tahun sekali. Dilaksanakan setiap bulan ketujuh kalender Imlek karena menurut kepercayaan masyarakat China itu adalah bulan setan.
"Bulan [ketujuh kalender Imlek] ini arwah- arwah yang di atas semua pintunya dibuka agar mereka bisa, istilahnya, dolan atau sambang family," kata Wibitono, Rabu, 10 September 2025.
Sembahyang Arwah dilaksanakan pada Selasa, 9 September 2025, tadi malam. Sembahyan ini, terang Wibitono, dilaksanakan oleh masyarakat pemeluk Buddha yang ingin mendoakan arwah keluarga yang sudah meninggal atau leluhur.
Sementara Sembahyang Ulambana dilaksanakan pada Rabu ini. Sembahyang ini, lanjut Wibitono, ditujukan untuk arwah-arwah yang tidak terurus. "Supaya mereka [arwah-arwah tak terurus] tahu itu diundang untuk makan bersama," ujarnya.
Untuk pembagian paket sembako, Wibitono mengatakan bahwa tahun ini ada 3 ribu paket sembako yang dibagikan kepada masyarakat. Mereka datang berbondong-bondong mendatangi aula klenteng untuk mendapatkan sembako yang dibagikan setelah Sembahyang Ulambana.
Mengacu pada pengalaman tahun sebelumnya, mereka yang datang tidak hanya dari Tulungagung, tapi juga dari daerah tetangga seperti Kediri dan Trenggalek. Mereka mendapatkan sembako berisi beras, minyak, kopi, gula, dan mie.
Sembako dibagikan tanpa kupon, tapi diatur tertib sehingga tidak menimbulkan keributan. "Tidak direbutkan ini bahaya, kalau rebutan tidak etis," ujar Wibitono.