Cerita Menegangkan saat Mayjen Rudy Saladin Redam Kerusuhan di Grahadi dengan Empati
- Istimewa
Surabaya, VIVA Jatim – Semua ingat di hari mencekam itu. Saat itu, Sabtu, 30 Agustus 2025, jantung Kota Surabaya begitu mencekam karena aksi ricuh massa tak beratribut. Massa anarkis seolah berkuasa dan berbuat semaunya saja.
Sabtu petang, Gedung Negara Grahadi yang sehari sebelumnya telah rusak di beberapa bagian kembali didatangi massa lagi. Mereka menuntut teman-teman mereka yang ditahan karena kericuhan sehari sebelumnya agar dibebaskan.
Makin malam jumlah kerumunan kian banyak. Ditambah orang-orang yang menonton, Jalan Gubernur Suryo seakan berubah seperti lautan manusia.
Sementara personel TNI dari Kodam V/Brawijaya yang berjaga-jaga di halaman Gedung Grahadi hanya siaga. Mereka tak terpancing provokasi massa yang seakan mengajak berantem.
Tak lama kemudian, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin keluar dari halaman Grahadi. Didampingi para pejabat utama Kodam dan prajurit lainnya, ia menemui ribuan massa. Kehadirannya disambut sorak 'Ijo! Ijo! Ijo' dari massa. Rudy merespons itu dengan senyuman dan raut wajah yang tenang.
Setelah suasana mencair, sambil duduk bersila Rudy kemudian mengajak mereka berdialog. Begitu dipastikan kondisi tenang, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bergabung Dialog singkat itu berjalan lancar dengan suasana yang agak tenang.
Rudy memutuskan untuk menemui massa setelah menimbang-nimbang keadaan secara saksama. Ia berpikir, dalam kondisi krisis seperti itu tidak bisa serta-merta mengandalkan pasukan. Ia memilih empati sebagai senjata.
Baginya, krisis bukan hanya soal mengerahkan kekuatan, melainkan juga membaca hati massa. “Saya lihat mereka dewasa. Ketika ada yang melempar botol, mahasiswa sendiri yang melarang. Mereka tak suka kerusuhan,” katanya dikutip Sabtu, 13 September 2025.
Namun, keputusan itu bukan tanpa risiko. Rudy sempat bergulat dalam batin. Ia paham, provokator bisa saja memicu bentrokan setiap saat. Meski demikian, naluri kepemimpinan membuatnya memilih jalan berani.
Berdiri langsung di tengah mahasiswa, mendengarkan, dan berempati. “Mereka minta teman-temannya yang ditahan di Polrestabes Surabaya dibebaskan. Saya sampaikan, kita cari jalan bersama,” kata Rudy.
Setelah dialog, ia bersama Khofifah dan Kapolda Jatim bergerak menuju Polrestabes untuk melobi pembebasan Mahasiswa. Tapi entah bagaimana, setelah rombongan berangkat, di belakang kericuhan pecah. Batu beterbangan dan molotov dilempar.