Cerita Menegangkan saat Mayjen Rudy Saladin Redam Kerusuhan di Grahadi dengan Empati
- Istimewa
Akibatnya, sisi barat Gedung Negara Grahadi terbakar. Kepala Staf Korem 084/Bhaskara Jaya Kolonel Inf Nico Reza H. Dipura ingat betul detik-detik genting tersebut. Begitu informasi gedung terbakar diterima, Nico langsung menerima perintah dari Mayjen Rudy agar apa yang membakar Gedung Grahadi segera dipadamkan.
Masalahnya, massa mengadang mobil pemadam kebakaran (damkar) yang akan menuju lokasi kebakaran. Nico pun bergerak cepat. Ia mengerahkan pasukan TNI yang ada di lapangan, sekaligus membuka akses bagi mobil Damkar Surabaya untuk masuk.
Namun tantangan tak mudah, massa yang semakin anarkis berusaha menghalangi petugas damkar. Upaya membuka akses mobil Damkar tak mudah. Apalagi Pangdam mengingatkan Kolonel Nico agar tidak menggunakan cara kekerasan.
“Situasi makin kacau. Tapi Pangdam memerintahkan kami menghalau massa dengan cara humanis, tanpa kekerasan. Hanya ajakan lisan. Kami minta ke massa, ayo mundur, mundur,” cerita dia.
Di tengah situasi itu, Rudy kembali menunjukkan instingnya. Ia tak hanya menginstruksikan pasukan untuk siaga, tetapi juga meminta koordinator mahasiswa ikut membantu. “Saya bilang, Grahadi ini aset dan cagar budaya. Mari kita jaga bersama,” ungkapnya.
Permintaan itu dijawab dengan aksi nyata. Mahasiswa ikut membuka jalan bagi mobil pemadam kebakaran yang sempat tertahan, tentunya dengan penjagaan dari TNI.
Langkah humanis tersebut terbukti efektif. Api akhirnya bisa dijinakkan, dan kerusuhan tidak melebar. Wakil Kepala Dinas Damkar Surabaya Bambang Vistadi menceritakan, saat itu pihaknya berhasil memasukkan empat unit mobil damkar ke posisi dekat kebakaran, meskipun sempat kesulitan.
"Kalau telat lima menit saja, habis sudah Grahadi. Untung TNI dan mahasiswa membantu,” kata Bambang.
Di tengah upaya memadamkan api, asap pekat mengepul, api makin mendekati gedung utama. Sementara itu, batu dan petasan tetap dilemparkan dari kerumunan. Seorang petugas damkar bahkan terluka akibat terkena ledakan petasan, hingga harus dibawa ke rumah sakit.
Saat akhirnya api berhasil dipadamkan, Bambang mengaku lega. “Pangdam sendiri yang menyampaikan terima kasih. Beliau bilang kalau kami terlambat dua sampai lima menit saja, mungkin Grahadi sudah rata dengan tanah.”