Cerita Mistis Tlogo Punden dan Ritual Khusus Pengantin Baru
- Mokhamad Dofir/Viva Jatim
Lamongan, VIVA Jatim – Di balik indahnya suasana pedesaan, Dusun Tlogo, Desa Tlogorejo, Kecamatan Sukodadi, Lamongan, menyimpan sebuah kisah mistis yang datang dari sebuah telaga bernama Tlogo Punden.
Warga setempat mengetahui bahwa Tlogo Punden adalah telaga tua yang diyakini sebagai peninggalan leluhur dan hingga kini tetap disakralkan. Telaga seluas sekitar 3.000 meter persegi itu bukan hanya sumber kehidupan bagi masyarakat dusun, tetapi juga bagian dari sejarah dan spiritualitas.
Di dasar telaga, warga pernah menemukan susunan batu besar yang mirip struktur bangunan kuno. Temuan itu makin menguatkan keyakinan bahwa telaga memiliki hubungan dengan peninggalan leluhur zaman dulu.
“Telaga ini sudah ada sejak nenek moyang kami. Ada struktur batu-batu besar yang ditemukan saat normalisasi dulu. Sampai sekarang masih ada, makanya disebut Tlogo Punden. Kami menjaga kesakralannya,” ungkap Kepala Dusun Tlogo, Muhammad Dedy kepada VIVA Jatim, Senin, 22 September 2025.
Sakral dan Penuh Adab
Bagi masyarakat Dusun Tlogo, telaga ini bukan tempat biasa. Ada aturan adat yang tak boleh dilanggar, terutama ketika mengambil air. Tidak boleh menggunakan tangan atau kaki langsung, melainkan harus memakai wadah seperti ember atau ceret.
Tradisi itu semakin terlihat pada prosesi khusus bagi pengantin baru. Mereka yang berasal dari luar dusun diwajibkan melakukan ritual 'Ngangsu' air telaga. Air diambil lalu dibawa pulang sebagai simbol perkenalan dengan lingkungan baru.
“Sejak dulu, pengantin baru diajak mengambil air telaga. Itu bentuk penghormatan pada leluhur dan cara memperkenalkan diri pada masyarakat. Ada adabnya, tidak boleh sembarangan,” jelasnya.
Cerita Mistis yang Hidup
Walau tak ada penampakan gaib yang kasat mata, warga percaya telaga ini memiliki penghuni. Keyakinan itu diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi.
“Kalau soal penampakan tidak ada. Tapi telaga ini memang sakral. Kalau ada acara besar atau hajatan, biasanya kami datang ke sini untuk nyuwun sewu, meminta izin,” kata Dedy.
Bagi warga, penghormatan pada telaga bukan sekadar soal mistis. Lebih dari itu, ia adalah simbol menjaga hubungan dengan alam, leluhur, sekaligus tradisi yang diwariskan sejak berabad-abad lalu.