Cerita Korban Tragedi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Bertahan 3 Hari dengan Salawat
- Ahaddiini HM/VIVA Jatim
Sidoarjo, VIVA Jatim – Peristiwa ambruknya bangunan musala Ponpes Al Khoziny Buduran, Sidoarjo, menyimpan cerita mengharukan, bagaimana para santri yang terjebak di reruntuhan memotivasi diri agar bertahan hingga tim penyelamat berhasil mengevakuasi mereka.
Yang paling banyak memantik sorotan publik ialah santri cilik Syailendra Haical (Haikal) setelah videonya saat berkomunikasi dengan tim SAR viral di media sosial. Selain Haikal, juga ada korban lain yang menguatkan diri untuk bertahan agar selamat.
Salah satunya adalah Syaiful Rosi (14 tahun). Ia mengaku terjebak di bawah reruntuhan selama tiga hari. Tubuhnya tak bisa digerakkan barang sedikit karena kaki kanannya terjepit balok beton.
Selama terjebak, Syaiful bertahan hanya dengan mengandalkan udara yang masuk lewat celah reruntuhan. Pandangannya juga agak gelap karena sinar Matahari hanya menelusup lewat celah reruntuhan.
Selama puluhan jam, Syaiful bertahan tanpa makanan dan minuman. Kendali begitu, keinginan Syaiful untuk hidup begitu kuat. Tak henti-henti dia berdoa, merapal kalimat istighfar dan salawat.
Hingga kemudian ada suara tim SAR memanggil-manggil secara acak. Syaiful pun merespons dengan cara memukul material reruntuhan agar didengar petugas bahwa ia masih hidup.
"Saya sempat berkomunikasi dengan petugas dan reruntuhan di tok-tok serta ditanya nama, saya menjawab serta di sana saya hanya bisa berdoa salawat dan istighfar," ucapnya Jum'at, 3 Oktober 2025.
Tim SAR akhirnya berhasil menjangkau tubuh Syaiful. Tapi masalah ditemukan. Kakinya kanannya terjepit beton dan material padat dan berat itu tak mungkin di angkat secara manual. Akhirnya diputuskan kaki kanannya diamputasi di lokasi agar ia bisa dievakuasi.
Kini Syaiful harus melanjutkan hidup dengan bantuan satu kaki palsu untuk menyempurnakan langkah dalam membantu menopang badan. Tapi dia tabah dan tetap semangat untuk melanjutkan hidup.
Sementara Taufan Saputra (14) lebih beruntung dari Syaiful. Selama terjebak reruntuhan bangunan selama tiga hari, ia korban yang lebih cepat ditemukan dan dijangkau oleh tim SAR. Hanya posisinya yang sulit dikeluarkan.
Selama itu, Taufan sering diajak berkomunikasi oleh tim SAR. Suplai roti, minuman, dan vitamin juga diberi secara teratur oleh petugas. Ia pun mampu bertahan hingga batas golden time berakhir dan berhasil dievakuasi.