D Zawawi Imron Cerita saat Jadi Santri: Menyabit Rumput untuk Kuda Kiai
Sumenep, VIVA Jatim – Penyair kesohor Tanah Air D Zawawi Imron lahir dan tumbuh di lingkungan masyarakat pesantren. pada tahun 1960-an saat usia SMP setelah sempat mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat (SR), ia menjadi santri di salah satu pesantren kecil di kampung terpencil di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, yakni Kampung Lambi Cabbi, Desa Gapura Tengah, Kecamatan Gapura.
Karena itu ia merasakan betul bagaimana menjadi santri. Di pesantren tradisional dengan sistem ajar tontonan atau sorogan itu, ia belajar ilmu tauhid, fikih, dan adab. Ilmu-ilmu agama Islam itu diajarkan kiai dengan cara tontonan atau sorogan. Kitabnya jenis nadham yang berisi syair-syair, seperti Aqidatul Awam, Arkan (Kifayatus Shalah), dan Ta’limul Muta’allim.
“Nama kiai saya Kiai Fadol,” kata Zawawi saat ditemui VIVA Jatim di rumahnya di Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Madura, Kamis, 16 Oktober 2025.
Tiga kitab itu amat terkenal di pesantren-pesantren Nusantara. Semacam kitab wajib. Aqidatul Awal adalah kitab ilmu tauhid karya Sayyid Ahmad Al Marzuqi Al Maliki Al Hasani. Sedangkan Arkan kitab fikih dasar karya KH Yahya bin Faraid atau Syaikhona Yahya Bangkalan. Adapun Ta’limul Muta’allim kitab etika atau adab penuntut ilmu karya Syaikh Buhanuddin Az-Zarnuji.
Selain belajar ilmu agama, D Zawawi Imron juga diajari hidup mandiri oleh kiainya. Bersama santri-santri yang lain, ia menanak nasi untuk dimakan bersama-sama. Terkadang juga gotong royong membuat bangunan pondok. Yang paling sering dilatih bertani dan berkebun, menggarap sawah dan ladang milik kiai.
“Saya memacul ditunggui kiai,” ujar penyair berjuluk Celurit Emas itu.
Zawawi juga mengaku biasa mencari rumput untuk kuda milik kiainya yang saat itu menjadi transportasi utama. “Kalau siang sedikit saya menyabit rumput untuk kudanya kiai kalau mau pergi ke mana-mana. Kiai kan butuh kendaraan kalau mau ke Batang-Batang atau ke Bilangan yang jaraknya sampai 20 kilometer, sementara beliau tidak punya sepeda. Yang beliau punya adalah kuda. Kami menyabit rumput dan itu tidak ada tekanan, karena kami juga merasa ilmu yang didapat dari kiai tidak cukup dibayar dengan sekeranjang rumput,” cerita dia.