Kisah Dramatis Ibu 4 Anak Tinggal di Bawah Jembatan Layang Trosobo Sidoarjo
- Ahaddiini HM/VIVA Jatim
Sidoarjo, VIVA Jatim – Mujiana (37), warga Kecamatan Taman, dirundung ujian hidup. Bersama 4 anaknya, ia bertahan hidup di bawah Jembatan Layang Trosobo, Kabupaten Sidoarjo, setelah ditinggal pergi oleh suami dan utang-utangnya. Pemkab Sidoarjo turun tangan setelah menerima informasi itu. Mujiana kini tinggal di rumah susun sederhana sewa (Rusunawa).
Sebelum dibantu Pemkab Sidoarjo, Mujiana tinggal selama empat tahun di bawah Jembatan Layang Trosobo bersama 4 anaknya yang masih kecil. Saat itu, suaminya bekerja serabutan. Begitu pula dengan Mujiana. Celakanya, suaminya suka mengutang ke bank keliling atau bank titil. Cicilannya satu minggu sekali.
Tak hanya utang ke satu bank titil, tapi lebih dari dua. Lebih malang lagi, suami Mujiana tiba-tiba pergi entah ke mana. Meninggalkan Mujiana dan 4 anaknya. Tapi utang-utang tidak dibawa pergi.
Mujiana harus menghadapi sendiri penagih bank titil yang kerap menyangonggi rumahnya di bawah jembatan layang. “Dereng Mekar (koperasi simpan pinjam), [sementara] pencairan pinjaman Mekar digowo mlayu [suami]. Minggat," katanya pada Kamis, 23 Oktober 2025.
Kini hidup Mujiana lebih ringan dari sebelumnya, setelah Pemkab Sidoarjo memfasilitasi dirinya tinggal di Rusunawa. Mujiana mengaku bersedia pindah ke Rusunawa karena memang tidak layak. Ia juga memikirkan keempat anaknya bila terus tinggal di rumahnya dulu yang berdinding triplek dan beratap asbes penuh lubang dan retak-retak.
Apalagi, cerita Mujiana, setiap musim hujan rumahnya di bawah jembatan layang kerap dihantui banjir luapan sungai sekitar. Bahkan, satu waktu ia menemukan ular masuk ke dalam rumahnya saat banjir. “Kalau hujan kali belakang banjir," ungkapnya.
Permintaan agar Mujiana pindah ke rusunawa disampaikan sendiri oleh Bupati Sidoarjo Subandi. Tidak hanya menggratiskan uang sewa tempat tinggal, Subandi juga menyiapkan pendidikan gratis bagi keempat anak Mujiana.
"Nanti kita siapkan Rusun biar Mbak Mujiana mendapatkan tempat tinggal yang layak dan putri-putrinya mendapat akses pendidikan yang baik," terang Subandi.
Subandi mengaku ikut sedih melihat kondisi warganya seperti Mujiana. Ditambah lagi dengan kondisi anak-anak Mujiana yang tidak tersentuh pendidikan. Bagi Subandi, itu adalah pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan.