Cerita di Balik STMJ Segelas di Juang Delapan Belas

Minuman energi di STMJ Juang 18 Sidoarjo.
Sumber :
  • Ahaddiini HM/VIVA Jatim

Sidoarjo, VIVA Jatim – Banyak warung pendongkrak kesehatan dan energi menjual minuman Susu-Telur-Madu-Jahe (STMJ). Tapi STMJ di warung Juang Delapan Belas (Juang 18) yang dikelola penggerak Komunitas Kabut Malam di Kabupaten Sidoarjo ini bisa dibilang berbeda dengan yang lain.

img_title Kebutuhan Perlindungan Kesehatan Kian Komprehensif, Sequis Luncurkan Sequis Careln

STMJ Juang 18 dikelola oleh aktivis Kabut Malam, Wahyu Eko Yulianto (35) sejak 2018. Angka 18 di nama STMJ-nya diambil dari tahun berdiri usaha minuman energi tersebut. Alasan lainnya, angka 18 juga merujuk pada jumlah kecamatan di Kabupaten Sidoarjo.

"Sementara kata 'Juang' sebagai upaya perjuangan yang dibarengi dengan nilai kejujuran yang tidak expired. Untuk selalu diingat dan dilakukan di setiap waktu," kata Wahyu ditemui VIVA Jatim di tempat usaha STMJ Juang 18 di Desa Banjarkemantren, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jumat, 7 November 2025.

img_title Kembangkan Layanan Berbasis AI, RS Korpri Pura Raharja Kerjasama dengan RS CKU St. Mary's Internasional Korsel

Sebelum membuka usaha STMJ, Wahyu mengaku bekerja sebagai supervisor sebuah restoran. "Tapi karena pemikiran berdikari untuk buka lapangan kerja bagi sekitar, akhirnya saya resign, fokus di usaha STMJ ini," ujarnya.

Agar betul-betul alami, Wahyu membudidayakan tanaman herbal sendiri untuk bahan-bahan STMJ-nya. Jahe dan berbagai rempah-rempah ia tanam di lahan miliknya. Selain itu, ia juga juga membuka kebun kolektif yang dikelola bersama warga sekitar.

img_title Diserahkan ke Lanudal Juanda, Taman Pintar Juanda JAPFA Diharapkan Jadi Ruang Edukasi

"Saya juga membuat kebun jahe kolektif di Banjarkemantren, seperti tanam jahe, temulawak, kencur dan sejenisnya. Alhamdulillah, warga juga ikut menanam. Pupuk juga dibuat sendiri. Alhamdulillah banyak terima pesanan dan dipasarkan sendiri juga," ungkapnya.

Dengan bahan-bahan sendiri, Wahyu kemudian meracik minuman STMJ-nya, yang dikembangkan dari ramuan keluarga yang tetap lestari secara turun-temurun. "STMJ Juang 18 adalah hasil modifikasi resep dari keluarga saya sendiri," tandasnya.

"Jahe, sereh juga rempah lainnya sebelumnya dikepruk. Kemudian saya berpikir itu enggak tahan lama dan pengaruh juga ke daya beli konsumsi konsumen yang tinggi juga. Akhirnya saya coba eksperimen buat serbuk jahe rempah yang lebih tahan lama dan bisa jual untuk serbuknya sendiri juga praktis," imbuh Wahyu.

Wahyu menyebut, STMJ racikannya berbeda dengan STMJ di tempat lain. Yang membedakan ialah serbuk jahenya. Selain itu, juga tambahan berbagai macam rempah seperti lada hitam, jinten hitam, kapulaga, dan sejenisnya.

Halaman Selanjutnya
img_title