Cerita Pasutri Puluhan Tahun Tinggal di Tengah Hutan Jurang Gembolo Mojokerto

Karmin dan Simpen, pasangan suami istri puluhan tahun tinggal di rumah tengah hutan, di Jurang Gembolo Pacet-Trawas, Mojokerto
Sumber :
  • VIVA Jatim/M Lutfi Hermansyah

Mojokerto, VIVA Jatim – Pasangan suami istri (pasutri) puluhan tahun memilih untuk tinggal di Jurang Gembolo perbatasan Pacet-Trawas, Mojokerto. Mereka menggantungkan hidup dengan cara bertani.

img_title Terciduk, Maling Motor Modus Jadi Pengamen di Mojokerto Dipukuli Warga

Pasutri itu adalah Karmin atau dikenal dengan Pak Soleh (71) dan Simpen (56). Mereka membangun rumah sederhana di tengah hutan tanpa ada tetangga satu pun.

Menuju ke rumah pasutri tersebut dapat melewati jalan setapak area persawahan dari Desa Nogosari, Kecamatan Pacet, Mojokerto. Akses jalan ini masih dapat ditempuh menggunakan sepeda motor. 

img_title Predator Wanita STW Ditangkap Polisi, Modus Ajak Check In di Vila Pacet

Namun, kemudian harus jalan kaki sekitar 30 menit menyusuri jalan tani, semak-semak dan menyeberangai sungai. Selama perjalanan, disuguhi pohon-pohon tumbuh lebat dan menjulang ke atas. Lebatnya hutan membatasi sinar matahari untuk masuk.

Setelah melewati hutan bambu, terlihat kandang kambing dan sebuah rumah. Rumah ini berdiri di atas lahan Perhutani Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Lebak Jabung, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Pasuran. Sedangkan wilayah administrasinya masuk Desa Sukosari, Trawas Mojokerto. 

img_title Lima Desa Trenggalek-Tulungagung Ajukan Izin Hutan untuk KDMP, Perhutani Dukung Penuh

Rumah mereka pun jauh dari kata layak huni. Lantainya tanah dan dindingnya bambu. Untuk masak, mandi dan minum, Soleh dan Simpen memanfaatkan air dari sumber yang dialirkan melalui pipa. 

Karmin dan istrinya memutuskan tinggal di Jurang Gembolo sejak 2003. Berarti sudah 22 tahun. Meski sebenarnya pasutri 5 anak ini mempunyai rumah di Desa Cetong, Kecamatan Gondang, Mojokerto.  

Karmin mengaku memilih hidup di Jurang ini untuk menggarap ladang. Karena sudah tak mampu kerja ikut orang lain.  “Kalau kerja di rumah kan disuruh orang. Kalau disuruh orang misalnya, sehari kan harus full. Di sini kita menggarap ladang kepunyaan sendiri itu. Enggak ada yang nyuruh,” kata Karmin, Sabtu, 29 November 2025. 

“Kalau di rumah makan enggak punya apa-apa. Jadi di sini intinya itu cari makan,” lanjut dia. 

Mereka menggantungkan hidupnya dari bertani di lahan seluas 1,5 hektare milik Perhutani. Mulai dari komoditas ubi jalar, singkong, jahe, kacang dan pisang. Karmin juga merawat 7 ekor kambing jenis brahma dan ikan di kolam. 

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari, Simpen harus keluar dari hutan untuk belanja ke ke Pasar Pandan, Desa Pandanarum, Pacet. Dia harus berjalan kaki naik menempuh jarak 1 kilometer dan waktu sekitar 30 menit menuju tempat ia menitipkan sepeda motornya.

Halaman Selanjutnya
img_title