Cak Kartolo Digandeng Dispusip Surabaya untuk Hidupkan Literasi Budaya

Cak Kartolo bersama pejabat Dispusip Surabaya.
Sumber :
  • Dokumen Dispusip Surabaya

Surabaya, VIVA Jatim – Di sebuah rumah sederhana, tawa dan cerita masa lalu mengalir hangat saat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya menyambangi kediaman seniman ludruk legendaris, Cak Kartolo, Selasa, 13 Januari 2026.

img_title Pemkot Surabaya Siapkan Mini Bozem di Exit Tol untuk Atasi Genangan Kawasan Margomulyo

Kunjungan itu bukan sekadar silaturahmi, tetapi juga upaya merawat ingatan budaya agar tetap hidup di hati generasi muda. Cak Kartolo diajak untuk ikut berperan untuk mewujudkan tujuan itu.

Cak Kartolo, dengan senyum khasnya, lalu bercerita tentang perjalanan panjangnya di dunia ludruk. Dari panggung ke panggung, dari tepuk tangan penonton hingga masa-masa sulit yang ia lalui demi menjaga kesenian tradisional tetap bernyawa.

img_title Berjalan Efektif, Digitalisasi Parkir Surabaya Dongkrak PAD hingga 10 Persen

Kisah-kisah itulah yang kini ingin dirangkum Dispusip menjadi bahan literasi kebudayaan bagi anak-anak Surabaya.

Kepala Dispusip Surabaya, Yusuf Masruh, mengatakan pihaknya ingin menghadirkan literasi yang lebih dekat dengan kehidupan anak-anak.

img_title HJKS ke-733, Pemkot Berkomitmen Dukung Kebangkitan Ekonomi UMKM di Surabaya

“Kami ingin anak-anak tidak hanya membaca buku, tapi juga mengenal sosok nyata yang berjasa bagi budaya kota mereka sendiri. Pak Kartolo ini kan legenda hidup,” ujar Yusuf.

Menurut Yusuf, cerita perjuangan, nilai kehidupan, dan pengalaman Cak Kartolo akan dikemas menjadi materi edukasi yang bisa dimanfaatkan sekolah, perpustakaan, hingga komunitas literasi.

Dengan begitu, anak-anak bisa belajar bukan hanya dari teks, tetapi juga dari perjalanan hidup seorang seniman.

“Literasi dan budaya itu tidak bisa dipisahkan. Dari budaya, anak-anak belajar tentang karakter, jati diri, dan rasa bangga terhadap daerahnya,” katanya.

Melalui program literasi kebudayaan ini, Pemkot Surabaya berharap anak-anak tumbuh tak hanya pintar di sekolah, tetapi juga mencintai budaya sendiri.

“Kami ingin ludruk tidak hanya dikenang sebagai cerita masa lalu, tapi tetap hidup dan dekat dengan generasi sekarang,” tandas Yusuf.

Cak Kartolo sendiri menyambut baik inisiatif tersebut. Ia percaya, mengenalkan budaya sejak dini adalah bekal penting bagi anak-anak.

“Setiap anak itu unik. Ada yang berbakat seni, ada yang jago akademik, ada juga yang terampil di bidang lain. Semua harus diberi ruang,” pesan Cak Kartolo.