Kisah Aiptu Frian Telaten Dampingi Sahabat ODGJ Tulungagung Selama 5 Tahun

Aipda Frian Bersama ODGJ
Sumber :
  • Madchan Jazuli

Tulungagung, VIVA Jatim-Di saat matahari mulai condong ke barat dan tugas kepolisiannya di Polsek Gondang usai, langkah Aiptu Oktafrian Witdiantoro tidak langsung tertuju ke rumah. Pria yang menjabat sebagai Bhabinkamtibmas Desa Rejosari ini justru memacu kendaraannya menuju sebuah rumah sederhana bernama Yayasan Rumah Singgah Lentera Putih.

img_title Sasar ODGJ hingga Layanan Tanpa Ketemu, Ini Tiga Inovasi Adminduk Terbaru di Kabupaten Mojokerto

Di sana, ia melepaskan sejenak atribut kewibawaannya untuk melebur bersama 22 pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Bagi Pak Bhabin, begitu ia akrab disapa, mereka bukan sekadar pasien, melainkan manusia yang butuh dirangkul, bukan dikucilkan.

Semilir angin menembus balik rolling door yang tak jauh dari jalan desa. Yayasan tersebut satu-satunya di Kabupaten Tulungagung itu terus tumbuh. Pendiri Yayasan Lentera Putih ODGJ adalah Yanto. Sementara Aiptu Frian secara intens ikut mendampingi, membimbing pasien ODGJ sudah sejak 5 tahun yang lalu.

img_title Aksi Cepat Satpol PP Sidoarjo Amankan ODGJ yang Meresahkan Warga

Sore itu, selepas berdinas, tak membuat Aiptu Frian bersantai-santai. Lelah ia kesampingkan demi mendampingi pasien ODGJ, tepatnya di Jalan SMP II Dusun Jeruk RT 1 RW 2 Desa Kendal, Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung.

Jiwa sosialnya membuat ikut membantu di Yayasan Rumah Singgah Lentera Putih yang memiliki pasien ODGJ. Ia mengaku seminggu bisa lima kali untuk membantu Yanto mendampingi pasien.

img_title ODGJ Meninggal di Blitar, Begini Penjelasan Polisi

"Terutama pada saat ada pasien baru lebih sering ke yayasan. Soalnya butuh waktu yang lebih dalam arti kadang pasien baru kan ada yang ngamuk, perlu adaptasi, itu loh. Nah, kadang kalau dari yayasan sendiri tidak ngatasi," akui Aiptu Frian kepada VIVA Jatim, 15 Januari 2026.

Aiptu Frian sendiri selain sore hari, juga malam hari ikut membantu memberikan perawatan. Seperti memandikan, karena ada pasien yang memiliki rambut panjang untuk dipotong.

"Terus terus memberikan keterampilan pekerjaan. Contohnya yang lagi saat ini cara membuat keset dari kain. Limbah kain itu dari konveksi," ulasnya.

Dari hasil membuat kerajinan menjadi keset itulah, pria kelahiran 15 Oktober 1982 ini bersyukur bisa memberikan keterampilan kepada ODGJ dan dipasarkan. Alhasil, banyak yang tertarik dan mendapatkan penghasilan.

Tahun 2026 ini menandai setengah dekade perjalanan Aiptu Frian dalam misi kemanusiaan tersebut. Bagi Aiptu Frian, merawat ODGJ bukan sekadar tugas sosial, melainkan panggilan hati yang penuh dinamika.

Halaman Selanjutnya
img_title