Kata Pemerhati Sejarah Soal Rumah Radio Bung Tomo di Surabaya
- Istimewa
Surabaya, Viva Jatim-Rumah Radio Bung Tomo di Surabaya kini menjadi sorotan publik usai Presiden Prabowo Subianto menyinggung keberadaan tempat bersejarah tersebut dalam pidatonya di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin, 2 Februari 2026.
Belakangan, bangunan bagian dari cagar budaya di Jalan Mawar Nomor 10, Kecamatan Tegalsari, Kota Surabaya, kini berubah menjadi rumah mewah warna putih berpagar tinggi.
Pemerhati sejarah dari Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo menyebut, Rumah Radio Bung Tomo telah dirobohkan medio Mei 2016. Ia mengaku menjadi saksi kunci sekaligus orang pertama yang melaporkan pembongkaran saksi bisu perjuangan Bung Tomo bersama arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 10 November 1945.
Kuncar menceritakan, peristiwa tersebut bermula saat dirinya melintas di Jalan Mawar pada pagi hari. Ia semula mengira bangunan itu hanya direnovasi karena tertutup pagar seng. Namun, setelah pagar dibuka, bangunan bersejarah tersebut ternyata sudah rata dengan tanah.
"Saya kira cuma renovasi. Tapi pas saya lihat lebih dekat, bangunannya sudah hilang. Itu saya foto lalu saya unggah ke media sosial," ujar Kuncar dikutip, Rabu, 4 Februari 2026.
Dia bersama kelompok masyarakat sipil pecinta sejarah kemudian melaporkan kejadian itu ke Polrestabes Surabaya. Bahkan, upaya gugatan hukum sempat ditempuh pada 2017, meski akhirnya tidak membuahkan hasil.
Menurut Kuncar, rumah tersebut awalnya merupakan kediaman seorang pejuang bernama Amin sejak 1935. Pada 1996, bangunan itu ditetapkan sebagai cagar budaya dengan nama Rumah Tinggal Pak Amin karena menjadi salah satu lokasi kedudukan Radio Barisan Pemberontakan Republik Indonesia (RBPRI) yang digunakan Bung Tomo.
Meski demikian, Kuncar menjelaskan bahwa penggunaan rumah itu oleh Bung Tomo hanya bersifat sementara. Hal ini lantaran radio perjuangan saat itu bersifat mobile untuk menghindari razia pasukan sekutu.
"Radio perjuangan itu berpindah-pindah. Dari Jalan Biliton, lalu ke rumah itu, kemudian pindah lagi ke Tretes dan Malang," jelasnya.
Kini, jejak Rumah Radio Bung Tomo tak lagi tersisa. Plakat cagar budaya pun tidak ditemukan. Di atas lahan tersebut berdiri rumah mewah berwarna putih dengan pagar tinggi dan halaman luas.
Kuncar pun menyayangkan hilangnya bangunan bersejarah itu dan meminta Pemerintah Kota Surabaya memperketat pengawasan serta regulasi pelestarian cagar budaya. Ia juga mengusulkan agar pemerintah setidaknya memasang penanda atau prasasti di lokasi tersebut.