Jejak Perjuangan Adi Sutarwijono, dari Pena hingga ke Panggung Politik
- Istimewa
Surabaya, VIVA Jatim – Jenazah Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono atau Mas Awi sudah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Keputih, Kota Surabaya, pada Kamis, 12 Februari 2026. Banyak tokoh, kerabat, rekan, dan masyarakat hadir mengantarkan langsung ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Kabar wafatnya Mas Awi pada Selasa malam, 10 Februari 2026 pukul 20.36 WIB di Jakarta, memang menciptakan duka yang mendalam bagi banyak tokoh dan warga Surabaya. Ketika jenazah Mas Awi disemayamkan di Grand Heaven, Sejak pagi, pelayat datang silih berganti—keluarga, sahabat, kader, rekan kerja, hingga warga yang pernah bersinggungan dengannya.
Deretan bunga papan berdiri memanjang di pelataran gedung. Ucapan duka datang dari berbagai kalangan. Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyampaikan belasungkawa, demikian pula Ketua DPR RI Puan Maharani. Sejumlah pimpinan partai, lembaga, dan tokoh daerah turut menyampaikan penghormatan terakhir.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi hadir secara langsung menyampaikan doa kepada keluarga. Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya turut mengirimkan surat dukacita resmi—sebuah penanda bahwa Mas Awi dihormati lintas kalangan dan relasi kelembagaan.
Misa penutupan peti berlangsung khidmat. Setelah itu, Mas Awi dibawa ke Gedung DPRD Kota Surabaya untuk penghormatan terakhir di ruang yang selama ini menjadi tempat pengabdiannya. Dari sana, iring-iringan bergerak menuju Taman Pemakaman Keputih, Sukolilo, Surabaya.
Adi Sutarwijono lahir di Blitar, 4 Agustus 1968. Pendidikan tingginya diselesaikan FISIP Universitas Airlangga. Di kampus itu pula cara berpikirnya yang argumentatif, dialogis, dan sabar membaca persoalan, terbentuk. Ia tumbuh dalam tradisi intelektual yang percaya bahwa perbedaan tidak harus diselesaikan dengan suara keras.
Selesai kuliah, Mas Awi kemudian berkarir di dunia jurnalistik. Dengan pena dia mengekspresikan perjuangannya mendorong terwujudnya kepentingan rakyat. Karir jurnalistiknya dijalani di masa transisi demokrasi. Wartawan pada masa itu bukan sekadar pencatat peristiwa, melainkan saksi sejarah. Mereka memilih diksi dengan hati-hati, karena tahu satu judul bisa menggerakkan massa.
“Mas Awi memahami itu,” tulis sahabat Mas Awi yang kini menjadi Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPD PDI Perjuangan Jatim, Didik Prasetiyono.