Dengan Cara Apa Menghidupkan Malam di Bulan Ramadan? Ini Penjelasan Syaikh Yusri dari Mesir
- Madchan Jazuli.
Kediri, VIVA Jatim-Banyak ibadah yang bisa dilakukan untuk mengisi, menghidupkan malam atau qiyamullail di Bulan Suci Ramadan. Mulai mengaji hingga beribadah shalat sunnah seperti yang dicontohkan Rasullullah SAW.
Profesor ahli bedah pembulu darah, dokter spesialis bedah dan penyakit dalam, Syaikh Yusri Rusdy Jabr Al-Hasani Al-Azhari mengungkapkan beberapa hal yang bisa dikerjakan sesuai dengan hadis. Mursyid Siddiqiyah Syadziliyah ini mengatakan orang itu bisa dikatakan Qiyamu Ramadan atau menghidupkan malam Ramadan yaitu dengan ibadah, bisa berupa Shalat Isya' dan Subuh berjamaah.
"Karena dalam hadis dijelaskan bahwa siapa yang Shalat Isya' secara berjamaah, maka seperti dia telah menghidupkan sepanjang malam. Dan siapa yang Shalat Fajar berjamaah, maka seolah-olah dia telah menghidupkan seluruh malam," ujar Syaikh Prof Yusri beberapa waktu lalu di Pesantren Progresif Bumi Sholawat Sidoarjo.
Dan yang lebih utama daripada Qiyamu Ramadan adalah setelah Shalat Isya'. Yaitu melakukan salat sunnah dua rakaat. Dan tingkatan yang lebih tinggi lagi seperti yang dilakukan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, yaitu Shalat 11 rakaat. Dan Rasulullah SAW menjalankannya dengan menghabiskan seluruh malam dengan bacaan Al-Qur'an yang sangat panjang.
"Jika tidak mampu seperti itu, maka bisa kita melakukan qiam Ramadhan dengan salat tarawih 20 rakaat dan kemudian Shalat Witir 3 rakaat," terangnya.
Syaikh Yusri mengatakan itu dilakukan sebagaimana yang dilakukan di masa Sayyidina Umar. Termasuk sudah menjadi konsensus-konsensus atau ijma' para sahabat di saat itu.
"Jika anda menginginkan di malam bulan Ramadan untuk Shalat Sunnah sebanyak mungkin tanpa batas dipersilahkan," imbuhnya.
Guru besar Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini memaparkan tidak ada batasan jumlah rakaat sunnah. Bahkan di Mazhab Maliki menjelaskan bahwa Shalat Tarawih mungkin untuk selain orang Makkah sampai 36 rakaat.
"Anda mau kalau melakukan salat Qiam Ramadan dengan rakaat sebanyak mungkin tidak ada masalah. Kalau orang Makkah karena mereka bisa beramal dengan tawaf," jelasnya.
Syaikh Yusri menjelaskan untuk versi Wahabiyah membatasi Qiam Ramadan harus dengan 11 rakaat. Menurutnya ini dinilai sebuah kekeliruan dan tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Rasulullah SAW.