Melihat Alquran Tulisan Tangan Berusia Ratusan Tahun di Mojokerto yang Tintanya Tak Luntur
- M. Lutfi Hermansyah
Mojokerto, VIVA Jatim-Alquran tulisan tangan berusia ratusan tahun tersimpan di almari kaca kediaman pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) As Sholichiyah, di lingkungan Penarip, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto.
Meski sudah berusia hampir 2 abad, tinta yang dipakai untuk menulis Alquran tidak ada yang luntur. Hanya saja warna kertas yang mulai memudar.
Waktu penulisan manuskrip Alquran kuno yang ditulis oleh Kiai Sholeh Ilyas itu belum dapat dipastikan secara absolut. Namun cicit dari Kiai Sholeh, Mochammad Ilyasin (28), memperkirakan penulisan naskah Alquran terjadi sekitar tahun 1850/1860. Dengan begitu, Alquran tulisan tangan Kiai Sholeh sudah berusia sekitar 170 tahun.
“Penulisannya kurang lebih 2 tahun. Dari awal surat Al-Fatihah sampai An-Nas itu kurang lebih 2 tahun,” tutur Ilyasin yang kini menjadi pengasuh Ponpes As Sholichiyah, Rabu, 4 Maret 2026.
Dari dekat, Alquran tersebut terlihat tidak bersampul. Panjangnya 32 cm dan lebar 20 cm. Ditulis dengan teknik pena tutul di atas kertas berbahan serat kayu dan mengukuti kaidah Rasm Utsmani. Kondisi sobek, lapuk, dan hilang lembarannya membuat beberapa juz atau surah tidak lagi utuh. Selain usia, rusaknya kertas juga karena faktor pernah terendam banjir pada 2004 silam.
“Tidak lengkap 30 juz. Kondisinya memang sudah banyak yang rusak karena faktor usia Seperti halaman awal itu baru dimulai surat Al-Baqarah kisaran ayat 170-an,” ungkap Ilyasin.
Pada beberapa bagian halaman, Alquran ini memiliki hiasan corak. Hiasan ini berwarna merah, biru, hitam dan kuning emas. Menurut Ilyasin, hiasan corak merupakan simbol penting yang dapat mengidentifikasi zaman, gaya seni dan budaya manuskrip tersebut.
“Kalau masalah bahannya tinta berwarna kuning emas atau memang murni emas, saya belum bisa memastikan. Tetapi memang warnanya betul-betul emas,” paparnya.
Penulisan Alquran oleh ulama pada zaman dahulu, terutama sebelum adanya teknologi cetak, sering kali dilakukan melalui pesanan, seperti dari pihak kerajaan, bangsawan untuk kepentingan koleksi, wakaf, atau ibadah keluarga kerajaan.
Berdasarkan cerita turun temurun dari keluarga, lanjut Ilyasin, Kiai Sholeh termasuk salah satu ulama yang mempunyai keahlian dalam menulis Alquran. Semasa hidup Kiai Sholeh, beliau sering mengerjakan pesanan kitab suci Alquran. Namun upahnya bukan berupa uang, melainkan dua ekor sapi untuk satu mushaf Alquran.