Penjualan Rengginang Legendaris di Mojokerto Jelang Lebaran Tembus Hongkong-Malaysia
- Viva Jatim/Luthfi
Mojokerto, VIVA Jatim – Camilan Rengginang Moro Seneng di Mojokerto laris manis menjelang lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah. Tak hanya berbagai daerah di Indonesia, industri rumahan pembuatan rengginang Moro Seneng ini juga melayani pemesanan dari Hongkong dan Malaysia.
Tempat produksi rengginang Moroseneng berada di Sawahan Gang 3, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Mojosari, Mojokerto. Rengginang ini tergolong legendaris karena diproduksi sejak 1978. Saat ini, Bisnis keluarga tersebut dikelola generasi ketiga, yaitu Muhammad Bagus Dwi (32).
Bagus mengatakan, pesanan rengginang menjelang Lebaran 2026 mengalami peningkatan siginifikan.
“Untuk lebaran ada peningkatan omzet, bisa 70 persen dibanding bulan-bulan biasa,” kata saat disambangi VIVA Jatim di tempat produksinya, Sabtu, 7 Februari 2026.
Produk berbahan baku beras ketan ini telah diorder dari berbagai daerah di Jawa Timur (Jatim). Selain Mojokerto, permintaan juga datang dari Surabaya, Malang, Madiun, Magetan, Sidoarjo dan Gresik.
Tak hanya itu, usaha rengginang Moro Seneng ini mampu menembus pasar ekspor. Orderan dari Hongkong dan Malaysia.
“Dari Hongkong sudah berjalan sejak 5 tahun yang lalu, setiap bulan 1500 pack kemasan 250 gram. Kalau pesanan dari Malaysia masih baru bulan lalu 100 pack kemasan 200 gram,” ungkap Bagus.
Bagus memproduksi rengginang rasa asin udang dan manis jahe. Sedangkan pop rice berbahan ketan mempunyai 7 varian rasa, yakni original, balado, pedas manis, jagung bakar, keju, sapi panggang dan barbeku.
Dalam satu hari, bagus dan karyawannya memproduksi rengginang dengan beras ketan 100 kilogram. Proses produksinya diawali dengan merendam beras ketan selama satu malam. Kemudian ketan dikukus selama 1 jam sampai matang sempurna.
Penyiapan bahan dilanjutkan mengaduk ketan dengan bumbu sesuai varian rasa yang diinginkan.
“Untuk rengginang, bahan bumbunya segar dari pasar, dimasak, diblender, baru dicampur ketan yang sudah dikukus. Yang pop rice pakai perisai rasa (flavouring)," terang Bagus.
Setelah bahan utama siap, produksi rengginang dilanjutkan ke tahap pencetakan. Meski masih manual, emak-emak sangat cepat mencetak setiap rengginang, lalu ditata rapi di atas papan dari anyaman bambu. Selanjutnya hasil cetakan dijemur di bawah terik matahari.
Tahap pengeringan juga menggunakan oven berbahan bakar elpiji, baik untuk rengginang maupun pop rice. Menurut Bagus, rengginang siap digoreng apabila kadar airnya maksimal di angka 14%.