Makna Toleransi dalam Perayaan Nyepi dan Idul Fitri 1447 H yang Beriringan
- Istimewa.
Surabaya, VIVA Jatim-Ada yang unik di balik perayaan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 2026. Kedua hari besar agama umat Hindu dan Islam tersebut berlangsung beriringan. Fenomena tersebut menjadi menarik, seiring dengan keragaman dan nilai toleransi yang selama ini dipegang oleh masyarakat.
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Listiyono Santoso menyatakan bahwa masyarakat Indonesia sudah terbiasa hidup secara heterogen.
“Adanya perayaan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri secara berdekatan di antara umat beragama Indonesia merupakan hal yang sudah terbiasa terjadi. Hal ini sudah lama mendapat sambutan baik di kalangan masyarakat Indonesia yang memang sejak awal sudah hidup dengan beragam perbedaan,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya.
Pertemuan-pertemuan dalam konteks kebudayaan turut menjadi faktor utama dalam peristiwa ini. Perbedaan agama bukan menjadi masalah yang serius dalam lingkup negara Bhinneka Tunggal Ika.
Lebih lanjut, Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Jawa Timur ini juga mengajak masyarakat kembali menilik nilai dan makna toleransi.
Ia menjelaskan toleransi berasal dari kata tolerare yang berarti sikap sabar dan menahan diri. Dalam perkembangannya, toleransi dimaknai sebagai sikap untuk saling menghargai dan memberikan ruang yang sama bagi orang-orang dengan latar belakang berbeda.
Ia juga menekankan sikap toleransi dapat dicermati dengan memberikan ruang aman bagi orang dengan keyakinan berbeda untuk merayakan keyakinannya.
“Keyakinan dalam beragama itu dilindungi oleh konstitusi. Maka negara menjamin setiap masing-masing untuk beribadah dengan aman dan setiap orang tidak boleh mengganggu proses ibadah masing-masing agama tersebut,” ujar Wakil Dekan II FIB itu.
Lebih lanjut, ia menambahkan secara substantif, bangsa Indonesia telah menerima perbedaan-perbedaan yang mengakar sejak dahulu. Faktor keberagaman yang melekat menjadikan masyarakat terbiasa hidup berdampingan dengan damai.
“Negara Indonesia berbeda dengan negara-negara di Eropa. Masyarakat Indonesia secara alamiah tumbuh dan besar dalam perbedaan-perbedaan yang ada,” imbuhnya.
Ia juga menyoroti adanya anasir-anasir yang mengganggu di lingkup masyarakat namun nilainya tidak cukup besar untuk merusak pola tradisi rukun ini. Terlebih, Indonesia merupakan negara berbangsa yang secara sah mengakui perbedaan-perbedaan suku bangsa, agama, dan sebagainya.