Integrasi LKLB dalam Pendidikan Islam: dari Kurikulum Cinta ke Transformasi Pedagogis
- Dokumen pribadi Prof Husniyatus Salamah Zainiyati.
Model pembelajaran transformatif berbasis cinta dan LKLB yang mengedepankan project-based learning, problem-based learning, dan dialog lintas iman, menuntut perubahan peran dosen dari otoritas tunggal menjadi fasilitator refleksi kritis. Di sini, mahasiswa tidak hanya diajak memahami konsep keberagaman, tetapi juga mengalaminya, merefleksikannya, dan meresponsnya secara etis.
Pendekatan ini sejalan dengan tradisi reflektif dalam pendidikan Islam, seperti muhasabah dan tafakkur, namun dikemas dalam metodologi pedagogis yang relevan dengan konteks kontemporer. Dialog lintas iman, misalnya, dapat dibaca bukan sebagai upaya relativisasi akidah, melainkan sebagai latihan etika perjumpaan dan tanggung jawab sosial.
Dalam bingkai ini, pendidikan Islam justru mempertegas perannya sebagai kekuatan moral yang menumbuhkan kemanusiaan dan keadilan.
Dari perspektif kelembagaan, integrasi LKLB juga menuntut sistem penjaminan mutu yang sensitif terhadap dimensi nilai. Monitoring dan evaluasi tidak cukup hanya mengukur ketercapaian kognitif, tetapi juga harus mampu membaca proses internalisasi sikap dan karakter.
Ini tentu bukan pekerjaan mudah, karena penilaian nilai dan sikap selalu berhadapan dengan persoalan metodologis dan etis. Namun, tanpa upaya ini, Kurikulum Berbasis Cinta berisiko menjadi jargon simbolik tanpa dampak nyata.
Lebih jauh, integrasi LKLB membuka ruang refleksi kritis tentang arah pendidikan Islam ke depan. Apakah pendidikan Islam akan tetap bertahan sebagai benteng identitas yang defensif, atau bertransformasi menjadi ruang dialog yang produktif dengan realitas sosial.
Dalam konteks Indonesia yang plural, pilihan kedua tampaknya semakin relevan. Pendidikan Islam yang berwawasan lintas budaya tidak berarti kehilangan identitas, melainkan menegaskan identitas yang matang, reflektif, dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, integrasi Literasi Keagamaan Lintas Budaya dalam Kurikulum Berbasis Cinta dapat dibaca sebagai upaya strategis untuk merekonstruksi pendidikan Islam agar lebih kontekstual dan transformatif.
Tantangannya bukan pada absennya konsep, melainkan pada konsistensi implementasi dan keberanian melakukan evaluasi kritis. Jika dijalankan secara serius, pendekatan ini berpotensi melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual dan saleh secara personal, tetapi juga mampu berkontribusi bagi kemaslahatan bangsa dan kemanusiaan.