Menjelang Muktamar NU Ke-35, Ingat Pesan Mbah Hasyim

M. Faisol Fatawi
Sumber :
  • Dokumen M. Faisol Fatawi.

PONSEL saya belum juga tenang sejak kericuhan Munas-Konbes NU di Ploso menyeruak ke publik. Grup WhatsApp pengurus riuh oleh kecemasan warga, mengingat hari Muktamar NU kian dekat. Forum pengajian pun ikut membahasnya, hingga seorang jamaah sepuh menghampiri saya, bertanya lirih: apakah NU baik-baik saja? Sebagai pengurus NU, saya merasakan langsung bagaimana eskalasi itu merambat hingga ke akar rumput.

img_title Jelang Muktamar, Forbes NU 26 Soroti Arah Diplomasi PBNU dan Jebakan Normalisasi Israel

Mbah Hasyim Asy'ari telah lama berpulang menghadap Allah Swt. Namun jejak pemikiran dan keteladanannya tetap hidup di sepanjang perjalanan Nahdlatul Ulama. Bagi warga Nahdliyin, Mbah Hasyim adalah guru besar yang meletakkan fondasi nilai dan watak ke-NU-an, diwariskan lintas generasi.

Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 tahun 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus mendatang, saya kira baik bagi kita, seluruh warga Nahdliyin, merenungkan kembali pesan yang pernah disampaikan Mbah Hasyim dalam sambutannya pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-15 di Surabaya, 1940. Pesan itu kemudian dibukukan dalam kitab Min al-Mu'tamar ila al-Mu'tamar.

img_title Polres Jombang Bersiap-siap Jelang Muktamar NU Ke-35 di PP Tambakberas

Dalam pesan itu, Mbah Hasyim menekankan dua hal mendasar agar NU tetap eksis dan mampu menjalankan visi besarnya di tengah umat: al-wifāq wa al-wi’ām (persatuan, kesepahaman, dan harmoni) serta taqwiyatu al-syu’ūr al-mas’ūliyyah (penguatan rasa tanggung jawab). Keduanya fondasi peradaban. Sebuah organisasi bisa saja memiliki sumber daya besar, kader melimpah, dan jaringan luas; tanpa persatuan dan tanggung jawab, semua potensi itu kehilangan arah.

Yang menarik, Mbah Hasyim tidak meletakkan kemajuan organisasi sebagai soal kecerdasan semata, melainkan kualitas batin para anggotanya. Ketika setiap orang merasa bertanggung jawab, organisasi tumbuh. Ketika semua sibuk menuntut hak tanpa menguatkan kewajiban, kemunduran tinggal menunggu waktu.

img_title Muktamar NU Ke-35 Digelar di Tambakberas Jombang 27-31 Agustua

Al-wifāq mengandung makna kesepakatan yang lahir dari kesadaran bersama: kesediaan menempatkan kepentingan jam'iyah di atas kepentingan pribadi, jauh melampaui sekadar kompromi politik. Dalam organisasi sebesar NU, perbedaan adalah keniscayaan; yang jadi persoalan justru hilangnya kemampuan mengelola perbedaan menjadi kekuatan. Al-wi'ām, di sisi lain, adalah suasana harmoni yang lahir dari adab dalam berbeda, bukan dari ketiadaan kritik. Kritik boleh tajam, asal disampaikan dengan hormat; keputusan organisasi diterima dengan kelapangan hati. Kalau keduanya berpadu, persaingan berubah jadi kolaborasi, dan jabatan menjelma amanah pelayanan, bukan alat kekuasaan.

Halaman Selanjutnya
img_title