Menjelang Muktamar NU Ke-35, Ingat Pesan Mbah Hasyim
- Dokumen M. Faisol Fatawi.
Pesan kedua, taqwiyatu al-syu'ūr al-mas'ūliyyah, berangkat dari keyakinan bahwa organisasi tidak akan maju hanya dengan mengandalkan para pemimpinnya. NU akan kuat apabila setiap anggotanya merasa memiliki dan bertanggung jawab, rasa yang melahirkan inisiatif dan kesediaan bekerja tanpa selalu menunggu instruksi. Dalam konteks sekarang, tanggung jawab itu perlu dimaknai lebih luas: menghadirkan nilai-nilai NU dalam keseharian, dari ruang kelas sampai meja kerja, dari mimbar pengajian sampai linimasa media sosial.
Bagi saya pribadi, muktamar mendatang bukan sekadar ajang memilih ketua umum atau menyusun kepengurusan baru. Ia adalah momentum memperbarui komitmen bersama, ruang untuk merawat semangat kebersamaan agar NU mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Tantangan NU hari ini tentu berbeda dari zaman Hadratus Syaikh. Dunia kini memasuki era kecerdasan buatan, transformasi digital, krisis lingkungan, dan disrupsi ekonomi. Informasi bergerak begitu cepat sehingga konflik bisa menyebar hanya lewat satu unggahan. Seperti yang saya alami sendiri malam itu, jauh sebelum ada kesempatan mengklarifikasi duduk perkaranya. Dalam situasi seperti ini, persatuan internal menjadi aset yang jauh lebih berharga, dan pesan al-wifāq wa al-wi'ām menemukan relevansi barunya. Tidak semua perbedaan perlu dipertontonkan, dan musyawarah tetap jalan terbaik yang diwariskan para ulama.
Rasa tanggung jawab pun mesti hadir dalam penggunaan teknologi. Setiap warga NU memikul tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik jam'iyah, menyebarkan informasi yang benar, dan menahan diri dari fitnah. Dunia digital membutuhkan etika, dan etika itu sejak lama diajarkan dalam tradisi pesantren: bahwa lisan, dan kini jempol, seorang santri mencerminkan akhlak gurunya.
Saya sendiri meyakini, kemajuan NU pada akhirnya tidak semata diukur dari jumlah lembaga pendidikan, rumah sakit, atau badan usaha yang dimiliki. Semua itu penting, tentu saja. Tetapi ukuran yang lebih mendasar adalah kualitas ukhuwah di antara warganya. Sebab, bangunan sebesar apa pun akan rapuh bila fondasinya retak. Sejarah NU lebih dari satu abad, dengan segala pasang surutnya, menunjukkan bahwa yang menahan organisasi ini tetap utuh bukan semata sistem atau aturan, melainkan kepercayaan antarkiai, budaya musyawarah, dan penghormatan terhadap sanad keilmuan. Modal itulah yang harus terus dirawat, terutama menjelang muktamar yang biasanya menghadirkan dinamika organisasi cukup tinggi.