Jerit Warga Belanguan Bondowoso, Setiap Hari Tempuh Jalur Ekstrem Demi Air Bersih
- Istimewa
Surabaya, VIVA Jatim-Krisis air bersih telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Dusun Belanguan, Desa Karangsengon, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso. Kondisi tersebut bukan hanya terjadi saat musim kemarau, tetapi telah berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan ketika musim hujan tiba.
Setiap hari, warga harus berjalan kaki menyusuri jalur ekstrem menuju satu-satunya sumber mata air yang berada beberapa kilometer dari permukiman. Perjalanan melewati jalan setapak yang menanjak, berbatu, dan cukup curam itu menjadi rutinitas yang harus dijalani demi memenuhi kebutuhan air bersih.
Memasuki musim kemarau, penderitaan warga semakin bertambah. Debit di sumber mata air mulai berkurang sehingga mereka harus mengeluarkan tenaga dan waktu lebih banyak untuk mendapatkan air bersih untuk kebutuhan minum, memasak, mencuci pakaian, hingga keperluan rumah tangga lainnya.
Timba berkapasitas 10 hingga 20 liter menjadi barang yang selalu dibawa setiap hari. Setelah terisi penuh, jeriken tersebut dipikul di pundak sembari berjalan kembali melewati jalur yang sama menuju rumah masing-masing.
Dusun Belanguan dihuni sekitar 400 jiwa atau sekitar 100 kepala keluarga (KK). Hingga kini, belum tersedia sarana penyediaan air bersih yang mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga sehingga mereka masih bergantung pada satu sumber mata air yang lokasinya cukup jauh dari permukiman.
Perjalanan menuju sumber air bukan perkara mudah. Selain harus menempuh medan yang terjal, warga juga dihadapkan pada jalan licin dan berbatu yang berisiko menyebabkan terpeleset, terutama saat hujan turun.
Bagi sebagian warga yang memiliki kemampuan, mereka memanfaatkan kuda untuk mengangkut jeriken berisi air. Hewan tersebut menjadi alat transportasi yang paling memungkinkan melintasi jalur ekstrem yang tidak dapat dijangkau kendaraan bermotor.
Salah seorang warga, Darso, mengatakan, kesulitan memperoleh air bersih telah lama menjadi persoalan masyarakat Dusun Belanguan. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya terjadi saat musim kemarau, melainkan juga dialami ketika musim hujan.
"Setiap hari warga harus membawa jeriken dan berjalan jauh ke sumber mata air. Ada juga yang menggunakan kuda karena jalannya sangat curam dan sulit dilalui," ujarnya, Minggu, 19 Juli 2026.