Kisah Hamda, Dulu Minder Kini Berani Tampil Depan Kamera Berkat GameSquad
- Istimewa
Surabaya, VIVA Jatim-Rasa minder sempat membuat Hamdatussya'diyah, perempuan berusia 29 tahun asal Bandung ini, enggan tampil di depan kamera. Sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak, ia mengaku tidak pernah membayangkan dirinya bisa berbicara di hadapan audiens melalui media sosial.
Namun, keberaniannya perlahan tumbuh setelah mencoba membuat konten produk digital melalui GameSquad.
Sebelum mengenal platform tersebut, perempuan bernama panggilan Hamda ini merasa dirinya tidak memiliki kemampuan khusus yang bisa dibagikan kepada orang lain. Rutinitasnya sehari-hari lebih banyak dihabiskan untuk mengurus keluarga, sementara media sosial hanya menjadi tempat melihat aktivitas orang lain.
"Saya dulu sering merasa, saya ini bisa apa? Mau mulai sesuatu juga takut salah dan takut dilihat orang," ujar Hamda, Senin, 27 Juli 2026.
Perasaan itu membuatnya berkali-kali mengurungkan niat untuk mencoba hal baru. Ia khawatir kontennya tidak menarik, takut dikritik, hingga merasa tidak percaya diri melihat dirinya sendiri saat muncul di layar.
Meski begitu, Hamda akhirnya memberanikan diri membuat konten pertamanya tentang produk digital melalui GameSquad. Prosesnya tidak berjalan mulus. Ia berkali-kali mengulang rekaman karena gugup, salah memilih kata, dan belum terbiasa berbicara di depan kamera.
Alih-alih menyerah, Hamda justru menjadikan setiap rekaman sebagai bahan belajar. Sedikit demi sedikit ia mulai memahami cara menyampaikan informasi dengan bahasa yang sederhana, mengenali kebutuhan audiens, hingga menjawab berbagai pertanyaan yang datang melalui media sosial.
Perubahan itu tidak hanya terlihat dari kualitas kontennya, tetapi juga dari cara Hamda memandang dirinya sendiri. Ia yang dulu selalu ragu kini mulai percaya bahwa dirinya mampu berbicara, berbagi pengalaman, bahkan memberi manfaat bagi orang lain.
Aktivitas tersebut juga membuahkan hasil. Hamda mencatat komisi sekitar Rp650.000 dalam satu pekan. Namun menurutnya, pencapaian terbesar bukanlah nominal yang diperoleh, melainkan keberanian untuk keluar dari rasa takut yang selama ini membatasinya.
Bagi Hamda, platform hanyalah sarana. Perubahan sesungguhnya terjadi ketika seseorang berani mengambil langkah pertama, meski masih dipenuhi rasa takut.
"Dulu saya takut dinilai. Sekarang saya justru senang ketika ada orang yang bilang mereka ikut berani mencoba setelah melihat konten saya," katanya.