Dari Meja Biliar ke Gemerlap Panggung DJ, Jejak Tangguh Seorang Meysha

DJ Meysha
Sumber :
  • Istimewa

Surabaya, Viva Jatim – Di balik keriuhan lampu sorot dan dentuman musik yang membius pengunjung klab malam, berdiri seorang perempuan muda dengan tatapan mata yang penuh keteguhan. Orang-orang menyapanya dengan sebutan DJ Meysha.

img_title Mas Dhito Beri Beasiswa pada Pelajar Peraih Medali Emas LKS Nasional 2026

DJ Meysha lahir dengan nama kecil Maisyaroh pada 24 Oktober 1999. Hidup lulusan SMK ini tidak pernah ditaburi karpet merah. Sebelum jemarinya lincah memutar instrumen musik, tangan Maisyaroh lebih dulu akrab dengan bola-bola biliar. Selama enam bulan, ia menggantungkan napas sebagai score girl, yakni penata bola biliar dengan bayaran kecil untuk sekadar menyambung hidup.

Demi bertahan, ia memutar otak. Dari meja biliar, ia melangkah menjadi pelayan (waitress) klab malam. Di sela-sela rasa lelah menembus malam, benih semangat wirausahanya tetap tumbuh. Ia mencoba merintis usaha kecil-kecilan menjual pakaian berlabel namanya sendiri, Cece Meysha.

img_title Polemik Tarian Erotis Bondowoso Digital Days 2026, Bupati Abdul Hamid Minta Maaf

Namun, ada mimpi yang lebih besar yang terus membakar dadanya. Maisyaroh ingin mengubah takdir keluarganya.

Dengan sisa tabungan dan tekad yang tersisa, ia mengumpulkan keberanian untuk masuk sekolah DJ selama empat bulan. Tahun 2023 menjadi awal panggung barunya. Lulus sekolah DJ, ia resmi menyandang nama panggung DJ Meysha dan mulai mengadu nasib ke kafe-kafe Surabaya.

img_title Post Warung Kopi dan Lipstick Effect

"Setelah lulus sekolah DJ di tahun 2023, saya mulai bekerja nge-DJ di kafe Surabaya dengan nama panggung DJ Meysha," ujarnya, Jumat, 31 Juli 2026.

Nyatanya, panggung awal tak langsung memberi tepuk tangan. Surabaya terasa begitu dingin bagi Meysha yang bermodal pas-pasan.

"Setiap hari ke mana-mana naik Gojek, harga kos-kosan mahal dan kadang makan pun kekurangan. Tempat kerja pertama yang saya tempati waktu itu jarang ada tamu berkunjung, jadi jarang dapat saweran. Kalaupun dapat saweran, kadang masih dipotong perusahaan sebesar 20 persen," kenang Meysha, mengingat masa-masa sulit saat perutnya harus menahan lapar.

Keuangan yang kian menghimpit memaksa Meysha mengambil keputusan berani. Merantau ke Mojokerto selama satu tahun. Di sana ia menempa diri, menahan rindu dan lelah, hingga masa kontraknya berakhir.

Keberanian untuk tidak menyerah akhirnya berbuah manis. Saat kembali ke Surabaya dan tampil di sebuah kafe yang ramai, takdirnya berubah. Jemarinya yang piawai meramu musik mulai mencuri perhatian. Dentuman musiknya tak lagi bergema di ruangan kosong, melainkan di hadapan ratusan pasang mata yang terpesona.

Halaman Selanjutnya
img_title