Cerita Mustasyar Ranting Berhasil Masuk 3 Besar Calon Ketum PBNU

KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam.
Sumber :
  • Achmad Faizal/VIVA Jatim

POLITIK di dalam NU memang selalu punya cara sendiri untuk mengejutkan publik. Di tengah hiruk pikuk Muktamar ke-35 NU di PP Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang, ada satu nama yang membuat banyak orang mengangkat alis: KH. Abdussalam Shohib, Gus Salam.

img_title Kiai Imjaz Ungkap 5 Alasan Utama Kiai Miftachul Akhyar Terpilih Lagi Jadi Rais Aam PBNU

Bagaimana tidak, Gus Salam adalah satu-satunya calon Ketua Umum PBNU dengan latar belakang non struktural PBNU-PWNU yang masuk 5 besar calon. Saat ini, khidmah beliau di struktur NU adalah sebagai Mustasyar Ranting NU Denanyar, Jombang.

Sebelumnya, tahun 2023 memang pernah mengakhiri jabatan sebagai Wakil Ketua PWNU Jawa Timur. Namun, saat ini mesin struktural NU yang bisa dibanggakan hanya dari ranting NU Denanyar. Bukan dari pusat yang bisa menggunakan mesin struktur organisasi. Bukan pula dari provinsi yang bisa digerakkan untuk mendukungnya.

img_title Dua PR Mendasar yang Harus Ditangani Gus Kikin Setelah Pegang Kendali PBNU, Apa Itu?

Angka dukungan usulan calon Ketua Umum PBNU yang tidak bohong. Gus Salam mendapat dukungan sebanyak 261 dari PCNU-PWNU dan PCINU. Hebatnya, tidak berhenti di 5 besar. Gus Salam justru memperoleh jumlah dukungan usulan nomor urut 3. Selisih hanya satu angka dari KH. Zulfa Musthofa, Wakil Ketua Umum PBNU yang menjadi Penjabat Ketua Umum PBNU ketika Gus Yahya diberhentikan.

Dan yang lebih menarik, jumlah dukungan itu melebihi dukungan terhadap petahana Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, dan juga melebihi Ketua PWNU Jawa Tengah, KH. Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin. 

img_title Mengenal KH Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU Terpilih di Muktamar NU ke-35

Coba renungkan. Seorang mustasyar ranting NU mengalahkan petahana dan Ketua PWNU terbesar di pulau Jawa. Ini bukan soal keberuntungan atau “angin muktamar”. Jika menilai begitu, berarti dia belum paham cara kerja NU. Inilah fenomena, dan fenomena itu punya nama, yakni kerinduan.

Kerinduan terhadap pemimpin yang mau turun, bukan diturunkan. Warga NU sudah lelah dengan politik organisasi papan atas. Sebaliknya, mereka kangen dengan kiai yang mau duduk lesehan, mendengar keluh kesah berNU, dan mau datang tanpa agenda politik praktis. Keberuntungan tidak bisa menjelaskan itu. Dan, itu namanya kepercayaan yang ditanam.

Memang, Gus Salam dikenal sebagai cucu pendiri NU. Tapi beliau tidak menjual nama kakeknya. Beliau justru membangun kepercayaan dengan silaturrahim, mendengar dan merawat. Warga NU hari ini sudah cerdas, tidak lagi memilih karena “bin siapa ?”. Tapi dipilih karena sudah “sudah berbuat apa?”. Dan, ketika kepercayaan itu dirajut, disulam, dan dirawat, ia berbuah. Buahnya adalah nomor urut 3 Calon Ketua Umum PBNU.

Halaman Selanjutnya
img_title