Anak Bukan Mesin Prestasi: Didiklah dengan Cinta, Jangan Ditekan!
- Istimewa
Surabaya, VIVA Jatim – Di era kompetitif seperti sekarang, banyak orang tua tanpa sadar menempatkan anak-anak mereka dalam “jalur cepat” menuju sukses—mengikuti les sejak dini, mengejar ranking, bahkan merancang masa depan anak dari usia taman kanak-kanak. Namun, apakah semua ini benar-benar demi kebaikan anak?
Para ahli sepakat: anak bukan mesin prestasi. Mereka manusia yang sedang tumbuh, lengkap dengan emosi, keunikan, dan kecepatan belajar masing-masing. Menekan anak untuk mengejar pencapaian tanpa memberi ruang kasih sayang bisa berdampak pada perkembangan psikologis jangka panjang.
Tekanan Prestasi Sejak Dini: Apa Dampaknya?
Menurut Dr. Seto Mulyadi (Kak Seto), psikolog anak sekaligus pemerhati pendidikan di Indonesia, tekanan berlebih terhadap anak justru bisa memicu stres, kecemasan, bahkan depresi sejak usia dini.
"Anak-anak butuh kasih sayang, bukan ancaman atau paksaan. Jangan bandingkan mereka dengan anak lain. Tiap anak unik," tegasnya dalam berbagai seminar parenting.
Penelitian dari American Psychological Association (APA) juga menyebut bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam pola asuh berorientasi prestasi, tanpa diimbangi kehangatan emosional, cenderung memiliki self-esteem yang rendah dan rentan terhadap gangguan mental saat dewasa.
Cinta yang Menumbuhkan, Bukan Menghimpit
Psikolog perkembangan, Dr. Hurlock, dalam bukunya Child Development, menekankan pentingnya “positive regard” atau penerimaan tanpa syarat dari orang tua. Artinya, kasih sayang tidak boleh bergantung pada nilai ujian atau ranking di sekolah.
“Cinta yang konsisten menjadi fondasi rasa aman dalam diri anak. Dengan rasa aman itulah anak berani mencoba, gagal, dan belajar lagi,” tulis Hurlock.
Hal ini juga diperkuat oleh Dr. Shefali Tsabary, ahli parenting asal AS, yang menekankan bahwa tujuan pengasuhan bukanlah membentuk anak menjadi 'produk' yang sempurna, melainkan membantu mereka menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
"Parenting is not about raising a perfect child. It is about raising a conscious parent first," ujarnya.
Tanda-Tanda Anak Tertekan Karena Tuntutan
Para psikolog menyarankan orang tua waspada jika anak menunjukkan gejala berikut:
- Sering mengeluh sakit kepala/perut tanpa sebab medis.
- Menjadi sangat takut gagal atau dikritik.
- Kehilangan semangat belajar atau bermain.
- Menarik diri dari aktivitas sosial.
- Selalu cemas menjelang ujian atau penilaian.