Pentingnya Ajari Anak Kelola Finansial dengan Bijak dari Uang Jajan
- Unsplash
Surabaya, VIVA Jatim – Di tangan kecil itu, terselip lembaran uang jajan yang terlihat sepele. Seribu dua ribu rupiah, kadang receh. Tapi dari sanalah, anak-anak sebenarnya sedang belajar hal besar: cara mengelola hidup.
Seringkali, kita menganggap uang jajan hanya sebagai bekal harian. Namun, bila ditanamkan nilai-nilai keuangan secara sederhana sejak awal, uang jajan bisa menjadi alat pendidikan yang sangat efektif. Sejak dini, anak bisa belajar tentang memilih, menunda keinginan, menabung, bahkan berbagi.
Mengapa Harus Mulai dari Uang Jajan?
Menurut Prof. Dr. Euis Sunarti, Guru Besar Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB, pendidikan keuangan anak sebaiknya dimulai sedini mungkin, saat anak mulai mengenal konsep uang. Uang jajan adalah media paling dekat dan nyata untuk itu.
“Jangan tunggu remaja, apalagi dewasa. Anak perlu tahu sejak kecil bahwa uang itu terbatas, dan penggunaannya butuh tanggung jawab,” kata Euis dalam sebuah seminar parenting.
Latihan Kecil, Dampak Besar
Ketika anak diberi uang jajan harian atau mingguan, kita bisa membimbing mereka melalui beberapa latihan sederhana:
Menentukan Prioritas
Apakah uangnya akan dibelikan permen, atau ditabung untuk mainan idaman? Anak belajar memilih, dan memahami bahwa mereka tidak bisa membeli semuanya.Menunda Keinginan
Konsep delayed gratification — menunda kesenangan untuk hasil yang lebih besar — adalah salah satu pelajaran hidup terpenting. Dan uang jajan adalah ladang latihan yang sangat baik.Menabung
Dengan membelikan anak celengan atau rekening khusus, mereka bisa melihat hasil nyata dari kebiasaan menabung. Ini juga menanamkan nilai ketekunan.Berbagi dan Sedekah
Sisihkan sedikit dari uang jajan untuk infak. Anak diajari bahwa rezeki tak hanya untuk dinikmati sendiri, tapi juga dibagikan.
Bukan Soal Jumlah, Tapi Konsistensi
Bukan besar kecilnya uang yang penting, tapi rutinitas dan pembiasaan. Bahkan uang Rp1.000 sehari bisa menjadi pelajaran mahal bila dibimbing dengan benar. Kuncinya adalah keterlibatan orang tua — bukan hanya memberi uang, tapi juga berdiskusi dan mengevaluasi bersama.
Dr. Rina Herlina, psikolog anak dan keluarga dari UI, menyarankan agar orang tua tidak sekadar memberikan, tetapi memberi momen refleksi. “Tanya anak, 'Hari ini jajan apa? Kenapa milih itu?' Dari sana, kita bisa masuk ke nilai-nilai ekonomi tanpa menggurui,” katanya.