Teknik Menolong Korban di Ruang Sempit yang Berisiko Tinggi
- Kantor SAR Surabaya
Surabaya, VIVA Jatim – Mengevakuasi korban yang berada di ruangan sempit minim oksigen penuh risiko tinggi. Bila tanpa persiapan dan kemampuan memadai, maka bisa jadi justru si penolong juga ikut jadi korban. Butuh teknik khusus untuk operasi penyelamatan di ruang yang sempit.
Teknik pertolongan korban dalam kondisi seperti itu perlu dilatih secara kontinyu. Sebab, setiap kondisi dan medan berbeda-beda. Itu sebabnya Kantor SAR Surabaya melakukan latihan rutin penyelamatan di ruang terbatas atau sempit (confined space rescue atau CSR).
Digelar pada Kamis, 21 Agustus 2025, latihan digelar di menara latih kantor. Latihan ini digelar untuk memastikan kesiapan personel dalam menghadapi kondisi darurat yang berisiko tinggi. CSR merupakan teknik evakuasi korban di ruang sempit dengan ventilasi terbatas, potensi paparan gas beracun, reruntuhan, serta akses keluar-masuk yang sulit.
Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit P.H., menjelaskan, latihan rutin semacam ini penting untuk menjaga keterampilan personel. Selain untuk memastikan kemampuan personel selalu terjaga.
"Latihan ini juga meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi darurat di ruang terbatas," katanya dalam keterangan diterima Jumat, 22 Agustus 2025.
Menurut Komandan rescuer Kantor SAR Surabaya, Gani Wiratama, pelaksanaan CSR memiliki risiko tinggi sehingga setiap tahapannya harus mengikuti prosedur ketat.
Dalam simulasi latihan, tim rescuer berlatih mengevakuasi seorang pekerja yang dilaporkan lemas saat bekerja di dalam silo. Langkah awal dilakukan dengan assessment lokasi dan potensi bahaya, kemudian mengamankan area dengan pemasangan safety line serta memastikan semua sumber energi dan mesin di lokasi telah terisolasi.
Tim rescuer juga memeriksa kandungan gas menggunakan gas detector, termasuk kadar oksigen, LEL (Lower Explosive Limit), serta gas beracun seperti CO dan H₂S. Rescuer yang memasuki silo dilengkapi dengan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA) untuk mengantisipasi terpapar gas berbahaya, serta menggunakan alat pelindung diri di ketinggian dengan lengkap.
Proses evakuasi dilakukan dengan teknik vertical entry, di mana rescuer turun dengan cara lowering sambil menjaga komunikasi dengan tim pendukung. Setelah korban berhasil dijangkau, korban dievakuasi ke atas menggunakan sistem lifting tandem (MAS 4:1 piggyback).