Mengapa Banyak Orang Bertahan pada Suatu Pekerjaan Meski Merasa tak Bahagia? Ini Penjelasan Dosen UNAIR

Ilustrasi Stress.
Sumber :
  • Istimewa

Surabaya, VIVA Jatim-Tak sedikit individu yang memilih bertahan pada pekerjaannya meskipun tempat kerjanya tidak membuatnya bahagia dan berkembang. Hal ini disebut dengan istilah Job hugging.

img_title Kebutuhan Perlindungan Kesehatan Kian Komprehensif, Sequis Luncurkan Sequis Careln

Dosen Ekonomi Ketenagakerjaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), Achmad Sjafii mengatakan banyak orang kini lebih berhati-hati untuk membuat keputusan karirnya. Hal tersebut dikarenakan ketidakpastian ekonomi. Pasar kerja menjadi lebih kompetitif akibat perubahan kondisi ekonomi yang dinamis.

Menurut Sjafii, perilaku ini sejatinya bukanlah hal baru. Ini merupakan fenomena lama yang kembali mencuat seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi.

img_title Heroes Push Bike Championship Perdana Diserbu 600 Rider, Peserta Datang dari Empat Negara

"Sekarang mempertahankan pekerjaan saja sudah sulit, apalagi mencari yang baru. Jadi mereka berpikir sing penting iso mangan (yang penting bisa makan, red). Rasa aman itulah yang akhirnya membuat mereka bertahan,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya.

Lebih lanjut, Sjafii menyoroti bahwa keputusan untuk terus bertahan demi rasa aman, seringkali berujung pada hilangnya motivasi dalam bekerja. Tanpa disadari, pekerjaan yang semula menjadi sarana pengembangan diri berubah menjadi rutinitas monoton hanya untuk memenuhi kewajiban.

img_title Kembangkan Layanan Berbasis AI, RS Korpri Pura Raharja Kerjasama dengan RS CKU St. Mary's Internasional Korsel

Jika berlangsung dalam jangka panjang, situasi tersebut bukan hanya merugikan individu, tetapi juga berpotensi menurunkan kinerja perusahaan.

“Kalau seseorang tidak bahagia di pekerjaannya, kinerjanya pasti menurun. Kalau sudah begitu, performa kerja menurun, dan perusahaan pun ikut terdampak,” imbuhnya.

Fenomena job hugging, sambungnya, menunjukkan bagaimana keputusan individu dapat berimbas lebih luas. Oleh karena itu, Sjafii menilai perlu langkah bersama untuk menghadapinya. Tanggung jawab tersebut tidak dapat dibebankan kepada individu semata. Sebab, perusahaan dan pemerintah juga memegang peran penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang adaptif dan suportif.

Perusahaan, kata Sjafii, perlu menyediakan program pelatihan serta pengembangan keterampilan secara berkelanjutan agar karyawan tidak stagnan dalam pekerjaannya. Dukungan terhadap peningkatan kapasitas tersebut akan membantu pekerja merasa lebih dihargai sekaligus memberi ruang untuk berkembang.

Ia juga menambahkan bahwa pemerintah memiliki peran strategis dalam mendorong lahirnya kebijakan yang mendukung pengembangan sumber daya manusia (SDM). Upaya tersebut dapat terwujud melalui penyediaan pelatihan kerja, pemberian insentif bagi perusahaan yang berinvestasi pada peningkatan kompetensi, hingga kampanye kesadaran tentang pentingnya pengembangan diri di tengah pasar kerja yang terus berubah.

Halaman Selanjutnya
img_title