Tips Mengurangi Efek Negatif Paparan Sinar Matahari Ekstrem Menurut Dosen Fakultas Kedokteran Unair

Ilustrasi Cuaca Panas
Sumber :
  • Istimewa

Surabaya, VIVA Jatim-Meskipun di beberapa daerah sudah mulai turun hujan, namun cuaca panas di siang hari masih dirasakan dan menyengat kulit. Paparan sinar matahari ekstrem secara langsung tentu akan tidak baik untuk kesehatan kulit.

img_title Terkait Sejoli Mesum, Unair Panggil Ortu hingga Periksa Penyebar Video

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR), dokter Irmadita Citrashanty membagikan tips pencegahan dan penanganan untuk mengurangi efek negatif dari paparan sinar matahari langsung.

"Hindari paparan sinar matahari ekstrim di jam tertentu dengan UV indeks tinggi, pakai tabir surya yang memiliki SPF 50 dan lakukan reapply setiap 2-3 jam sekali. Apabila berada di luar ruangan pakai baju lengan panjang, topi, ataupun payung dan usahakan hidrasi yang cukup dengan minum air teratur,” jelasnya.

img_title Mahasiswi Gelapkan Dana KIP-K Rp103 Juta, Unair: Wajib Mengembalikan Sebelum Lulus

Lebih lanjut, Irmadita menambahkan kiat penanganan apabila terkena sengatan sinar matahari ekstrim di antaranya memakai kipas angin menurunkan suhu tubuh, kompress badan atau wajah dengan air dingin. Selain itu, memakai masker wajah dengan kandungan Aloe vera juga dapat dilakukan untuk membantu menenangkan kulit yang terpapar sinar matahari.

“Suhu ekstrem memang fenomena alam akibat perubahan iklim yang terjadi di lingkungan. Dengan posisi kulit sebagai organ tubuh terluar dan terbesar maka risiko kerusakan akibat paparan sinar matahari memang lebih besar. Karena itu perlu pemahaman untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari dan merawat kulit agar tetap sehat,” katanya.

img_title Unair Perluas Jaringan Riset ke Afrika - Timur Tengah, Bidik Solusi Perubahan Iklim dan Kesehatan Global

Irmadita mengatakan lonjakan suhu ekstrim dapat mempengaruhi kesehatan tubuh. Seperti, risiko munculnya heat stroke akibat pelebaran pembuluh darah serta peningkatan beban metabolik tubuh pada usia tertentu.

Sementara dampak pada kulit dalam jangka pendek dapat menyebabkan kulit mengering akibat dehidrasi dan keringat berlebih yang menyebabkan masalah kulit yang sering disebut keringat buntet atau miliaria. Masalah ini sering timbul akibat paparan sinar matahari ekstrim dalam jangka pendek.

“Sedangkan pada jangka panjang, dampak yang ditimbulkan akan lebih parah. Penuaan dini dapat terjadi seperti munculnya flek hitam (hiperpigmentasi), kerutan halus pada wajah, sunburn atau kulit yang terbakar akibat paparan suhu ekstrim dari sinar matahari. Namun yang tidak kalah berbahaya yaitu munculnya risiko kanker kulit,” ungkapnya.