Pelukis Cilik Gresik Raih Penghargaan Piccaso Art Contest, Pamerkan 15 Karya
- Tofan Bram Kumara
Surabaya, VIVA Jatim-Dua kali menyabet penghargaan Piccaso Art Contest golden dan diamond seni rupa anak, Aisyah Hilyah pelukis yang masih duduk di kelas 5 Sekolah Dasar (SD) ini memamerkan 15 lukisan di galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya.
Pameran yang bertema "The Colour of Journey" ini berlangsung selama sebulan, mulai 25 Oktober 2025. Karyanya didominasi tentang lingkungan, misal sebuah karya yang menggambarkan tentang laut yang penuh dengan sampah botol plastik atau botol kaca.
"Saya mulai suka melukis sejak kecil, karena ada teman main yang suka melukis. Jadi saya ikut. Dari situ saya suka melukis, terutama Corat coret kertas, tembok dan lainnya," ujar Aisyah, Minggu, 26 Oktober 2025.
Kemudian, lanjut pelukis berusia 10 tahun ini, orang tuanya mengikutkan masuk ke Sanggar Daun. Dari situ banyak pelajaran teknik tentang melukis yang dia didapatkan.
"Saya suka melukis tentang alam, terutama lingkungan. Dipameran ini, saya ingin agar orang-orang sadar dan tergugah untuk menjaga kebersihan lingkungan," ucap Aisyah.
Sementara itu, Alis Hendasugiati, orang tua Aisyah mengatakan dari SD anaknya aktif menggambar di sekolah. Kemudian bulan Februari masuk ke Sanggar Daun.
"Di SD Al Islah Morowudi Cerme Gresik itu sudah aktif melukis, ikut extra lainnya. Melihat bakat Aisyah, saya kemudian memasukkan ke Sanggar Daun bulan Februari 2025 lali," terangnya.
Dari situlah, bakat Aisyah berkembang, hingga meraih penghargaan Piccaso Art Contest dua kali, kategori seni rupa anak golden dan diamond.
"Perkembangan Aisyah pesat sekali, dalam waktu 8 bulan sudah mengikuti beberapa ajang seni. Terdekat ini akan mengikuti Sengkuni 7 di Unesa, karyanya masuk dan akan dipamerkan," ujar Alis.
Sementara itu pendiri Sanggar Daun, Arik W Wartono menilai perkembangan Aisyah sangat cepat, apalagi mendapatkan penghargaan Piccaso Art Contest dengan karya tentang lingkungan di daerah Banyuwangi.
"Ketika masuk Sanggar Daun, Aisyah sudah memiliki bakat, tinggal mempoles bakat melukisnya. Apalagi di sanggar juga banyak pelukis lainnya. Jadi bisa bertukar teknik," ungkapnya.
Karena Aisyah memindah periode mencoret atau menggambar dari dinding ke kanvas, tentu saja gaya naifnya kuat. Tapi ada beberapa karya penuh kejutan, seperti karya mimpi yang minimalis tapi banyak yang menyukainya. Juga karya lukis kritik sosial tentang pencemaran laut seperti sampah botol di tepi laut.