Peluncuran Buku Tambo Girisik Tutup Malam Puncak Residensi Literatutur 2025

Finalis Residensi Literatutur 2025.
Sumber :
  • Tofan Bram Kumara

Gresik, VIVA Jatim-Peluncuran buku Tambo (Hikayat) Girisik oleh Yayasan Gang Sebelah menutup kegiatan Residensi Literatutur 2025, di Sualoka Hub, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik, akhir pekan kemarin. Diskusi dan bedah cerpen milik 10 finalis residensi literatutur memeriahkan malam puncak Literatutur 2025.

img_title Pelabuhan Memiliki Peran Strategis dalam Menjaga Ketahanan Pangan

Dua penggiat seni, Fatma Amalia dan Wahyu Ningtria membacakan naskah cerpen salah satu karya finalis residensi. Kedua penutur tersebut dari Kampung Dongeng membacakan cerpen karya Lucia priandarini asal Lebak Banten yang mendapatkan apresiasi dari para sastrawan, seniman, budayawan, penulis dan akademisi serta pengiat literasi yang hadir.

Ketua Yayasan Gang Sebelah Hidayatul Nikmah mengatakan buku Tambo diartikan hikayat. Sedangkan Girisik diartikan merujuk pada Gresik. Buku ini mengisahkan kehidupan Gresik dari sudut pandang warga lokal maupun dari sudut pandang para penulis peserta residensi.

img_title Polres Gresik-Kejari Perkuat Sinergi Penegakan Hukum

"Dari seleksi penulis tingkat nasional, kemudian terpilih 10 finalis yang kemudian diundang ke Gresik yang lalu menghasilkan karya cerpen dan di jadikan buku Tambo Gerisik," ujarnya.

Dalam proses tersebut, para finalis diajak ke situs Giri Kedaton yang kemudian menghasilkan tulisan yang mengangkat hikayat dan sejarah dari kawasan tersebut. Peserta juga diajak ke kawasan lain yang memiliki sejarah dan budaya Gresik untuk ditulis dari perspektif para peserta.

img_title Raih Adiwiyata Mandiri, Menteri Jumhur Nilai SMAN 1 Gresik Layak Jadi Teladan Nasional

"Dari karya finalis residensi itu dan dari hasil tulisan cerpen dipilih karya milik Lucia priandarini asal Lebak Banten yang dibaca oleh dua penutur sebagai pembuka sebelum peluncuran buku dan diskusi," terang Hikmatul.

Sementara pembina Yayasan Gang Sebelah, Dewi Musdalifah menjelaskan bahwa residensi literatur ini merupakan upaya memandang Gresik melalui mata orang lain.

"Bagi warga Gresik, kota ini biasa-biasa saja bahkan rumit, mungkin. Tapi dari sudut pandang orang luar (Gresik), kita diajak melihat Gresik secara jujur. Dengan harapan cinta untuk kota ini kembali bisa tumbuh," ungkapnya.

Ia berharap kegiatan seperti ini bisa kembali digelar untuk tahun mendatang dengan menghadirkan penulis-penulis dari beberapa daerah, tapi dengan konsep yang berbeda.

"Harapannya terus berlanjut setiap tahun. Giat ini titik fokusnya Gresik sebagai tuan rumah bagi siapapun, hal ini menjadi gerakan budaya dan seni dari Yayasan Gang Sebelah," jelas Musdalifah.

Halaman Selanjutnya
img_title