Surabaya Kretekroncong Festival 2025, Upaya Jaga Warisan Budaya Indonesia
- Rahmat Fajar
Surabaya, VIVA Jatim-Kretek dan Kroncong merupakan dua warisan budaya Indonesia yang sampai saat ini masih ada. Namun eksistensi keduanya tengah menghadapi tantangan di tengah perubahan regulasi dan tekanan global.
Direktur Lentera Nusantara Irfan Wahyudi mengatakan menjaga keseimbangan antara modernisasi kebijakan dan pelestarian budaya rakyat sangatlah penting. Dengan begitu, dua elemen khas nusantara tersebut bisa terus eksis.
"Penting bagi kita menemukan titik keseimbangan antara pengendalian dan keberlanjutan, antara kesehatan publik dan kesejahteraan rakyat, antara kebijakan dan kebudayaan," ujarnya dalam "Surabaya Kretekroncong Festival 2025 yang diselenggarakan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) bersama Lembaga Kajian Ekonomi, Budaya, dan Transformasi Sosial Lentera Nusantara, kemarin.
Festival ini mengangkat dua elemen khas budaya nusantara yakni kretek dan kroncong. Dua elemen tersebut merupakan simbol kreativitas rakyat dan identitas nasional.
Ketua Gabungan Pengusaha Rokok Indonesia (Gapero) Sulami mengakui bahwa industri kretek saat ini tengah menghadapi besar. Hantaman rokok ilegal menurut Sulami sangat merugikan para pengusaha rokok yang legal. Pemerintan perlu serius memberantas rokok ilegal.
"Kerugian negara karena rokok ilegal itu sangat besar," kata Sulami.
Sulami mengungkapkan kontribusi Industri Hasil Tembakau (IHT) terhadap ekonomi nasional sangat besar, terutama di Jawa Timur. Sektor ini menyumbang lebih dari Rp 216 triliun penerima cukai pada 2024. Serta menjadi sumber penghidupan lebih dari 5,9 juta tenaga kerja, mulai dari petani hingga buruh linting.
Kepala Kanwil DJBC Jawa Timur I, Untung Basuki mengakui bahwa kebijakan cukai adalah kebijakan politis. Namun ia berharap semua bisa tercipta keseimbangan antara penerimaan negara, pengendalian konsumsi hingga keberlanjutan industri padat karya.
"Kebijakan cukai harus jadi instrumen yang menjaga ekosistem industri, bukan mematikan pelaku usaha kecil," katanya.
Sementara itu, Rektor UWK, Prof Nugrahini Susantinah Wisnujati menegaskan pentingnya hilirisasi industri hasil tembakau. Dengan hilirisasi maka produk tembakau bisa menjadi komuditas ekspor.
"Harus ada juga seperti komunitas tembakau yang membahas pertembakauan," katanya.
Sementara itu, Pakar Seni Budaya Unesa, Joko Winarko mengatakan kretek dan kroncong menunjukkan bahwa metamorfosis budaya Indonesia tidak lahir dari penolakan terhadap yang asing. Tetapi dari kemampuan mengolahnya menjadi sesuatu yang berjiwa lokal.