Ribuan Puskesmas di Indonesia Belum Punya Dokter Gigi
- Rahmat Fajar
Surabaya, VIVA Jatim-Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Prof Muhammad Luthfi menyebut berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan bahwa lebih dari enam ribu puskesmas di Indonesia tak memiliki dokter gigi. Fakta ini yang mendorong Menkes akan memberikan support kepada beberapa lembaga termasuk pihak swasta membentuk FKG baru.
"Dengan dijalankan itu diharapkan nanti akan bisa menyebar secara merata di seluruh Indonesia, termasuk daerah 3 T," ujarnya dalam Media Gathering dalam rangka "Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2025, di FKG Unair, Selasa, 18 November 2025.
Prof Luthfi juga mengungkapkan persoalan lainnya yaitu dokter gigi saat ini masih banyak tersebar di perkotaan. Di samping itu juga kebanyakan didominasi oleh perempuan. Sehingga untuk menempatkan mereka ke daerah 3 T perlu dipikirkan lebih matang demi keselamatan mereka.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Luthfi juga mengungkapkan jumlah ideal dokter gigi dalam menangani kesehatan gigi di masyarakat. Menurutnya setiap tujuh ribu warga idealnya harus ada satu orang dokter gigi.
"Dokter gigi kita ada 2.500 di Surabaya. Tinggal kita menghitungnya berapa," katanya.
Namun yang menjadi permasalahan adalah dokter gigi di Surabaya tidak menyebar, melainkan menumpuk di kawasan tertentu. Sehingga ada beberapa wilayah yang kekurangan dokter gigi.
Lebih lanjut, kata Prof Luthfi, bahwa FKG akan terus mencetak dokter gigi, di mana setiap tahun mengalami peningkatan. Dan Saat ini, FKG sudah memiliki sekitar tiga ratus dokter gigi.
"Tujuannya adalah untuk pemerataan. Tinggal bagaimana nanti pemerintah. Keterlibatan pemerintah melakukan satu proses, supaya bisa menyokong semua ini," tuturnya.
Direktur RSGM Unair, Prof Agung Krismariono menambahkan bahwa untuk mengubah perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan gigi dan gusi tidak mudah. Menurut Prof Agung, membutuhkan waktu yang panjang agar masyarakat peduli terhadap kesehatan gigi dan gusi.
Prof Agung mengatakan perubahan perilaku juga tidak bisa dilihat dari tidak terbiasa menggosok gigi menjadi rutin menggosok gigi. Namun untuk saat ini perubahan bisa dilihat dari perawatan gigi dan gusi yang dilakukan masyarakat untuk estetika.
"Kalau dulu yang datang ke sini karena sakit. Tapi sekarang sudah banyak yang datang ke sini karena ingin giginya supaya lebih (bagus) Itu artinya sudah ada pergeseran dari penyakit infeksi menjadi estetika," kata Prof Agung.