RS Kemenkes Surabaya Pacu Kesiapan Tenaga Medis Hadapi Situasi Kegawatdaruratan

PLH Dirut RS Kemenkes Surabaya Dokter Martha Muliana.
Sumber :
  • Rahmat Fajar

Surabaya, VIVA Jatim-Rumah Sakit (RS) Kemenkes Surabaya berupaya memacu respon tenaga medis dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan. Pasalnya, respon yang cepat terhadap kedaruratan salah satu bentuk pelayanan yang harus diberikan kepada pasien.

img_title RS Premier Surabaya Berkomitmen Terus Tingkatkan Kualitas Layanan Kesehatan kepada Pasien

PLH Direktur Utama RS Kemenkes Surabaya, dokter Martha Muliana Lumogom Siahaan mengakui bahwa situasi kegawatdaruratan sering dialami oleh tenaga kesahatan di rumah sakit. Maka dari itu dibutuhkan saling berbagi ilmu pengetahuan antar tenaga medis dalam menghadapi situasi seperti itu.

"Kalau kita saling bahu membahu, tolong menolong dalam hal meningkatkan respon terhadap seluruh kasus kasus kegawatdaruratan mestinya outcome dari pelayanan kesehatan, khususnya di Jawa Timur ini akan semakin baik," ujarnya dalam Symposium dan Workshop Acute Life Emergency Response Training (ALERT), di Surabaya, Minggu, 23 November 2025.

img_title Kebutuhan Perlindungan Kesehatan Kian Komprehensif, Sequis Luncurkan Sequis Careln

Sebanyak 443 peserta mulai dari dokter umum, dokter residen, dokter spesialis, perawat dan mahasiswa kedokteran mengikuti kegiatan ini. Mereka mendapatkan pembekalan teknis bagaimana merespon situasi kegawatdaruratan.

Lebih lanjut, dokter Martha mengatakan tenaga medis bukan hanya dokter. Tetapi ada tenaga medis lainnya seperti apoteker, fisioterapi, ahli gizi dan perekam medis yang juga harus bisa menghadapi situasi seperti itu.

img_title Siloam Surabaya Operasi Katarak Gratis 86 Pasien, Buka Akses Kesehatan Mata bagi Warga

"Itu semua mempunyai peranan penting di era tranformasi pelayanan kesehatan yang saat ini sangat digaungkan oleh Kementerian Kesehatan," katanya.

Dalam kesempatan ini, Dokter Spesialis Ortopedi Tulang Belakang RS Kemenkes Surabaya, dokter Luthfi Gatam berbagi ilmunya kepada para peserta. Salah satunya tentang robotik navigasi.

Menurut dokter Luthfi, keberadaan teknologi robot navigasi sangat membantu saat melakukan tindakan medis. Robot bisa menjalankan tindakan yang sama secara berulang-ulang.

Berbeda dengan manusia, kata dokter Luthfi, bahwa manusia tidak pernah sama melakukan tindakan tertentu meski kasus yang ditanganinya sama. Hal tersebut karena dipengaruhi banyak faktor.

"Maka itu kehebatan teknologi, sehingga tingkat kesalahan menjadi semakin kecil," katanya.

Dokter Lutfhi menegaskan bahwa rumah sakit harus selalu mengadopsi perkembangan teknologi medis. Sebab jika itu tidak dilakukan maka, akan ditinggalkan masyarakat.

Kendati demikian, dokter Luthfi mengatakan robot tetap tidak bisa menggantikan peran manusia. Hingga saat ini, robot medis masih membutuhkan manusia untuk mengoperasikannya.

Halaman Selanjutnya
img_title