Menjaga Alam dan Ekonomi Agar Tetap Hidup di Lereng Gunung Arjuno

Petani di Area Refegetasi Hutan Alpukat, Batu.
Sumber :
  • Rahmat Fajar

Batu, VIVA Jatim-Joko Wibisono, petani di Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, memulai ceritanya bagaimana lahannya di lereng Gunung Arjuno perlahan mulai ditanami Pohon Alpukat di tengah-tengah tanaman wortel miliknya. Kawasan yang ia tanami, dulunya mengalami kebakaran pada tahun 2002.

img_title Gateball Championship Jatim 2026 Digelar, Fokus Cetak Atlet Muda

Bencana Banjir juga bisa datang sehingga merusak kawasan kaki Gunung Arjuno. Terjadinya banjir di kawasan ini karena mulai jarangnya pohon-pohon berakar kuat yang dapat mencegah terjadinya banjir.

"Ada bantuan dari UT, terus kita jalankan, kita tanamkan supaya untuk mencegah kebanjiran," kata Joko saat berbincang dengan media, di lahannya.

img_title Tingkatkan Keselamatan Karyawan, United Tractors Surabaya Gunakan Aplikasi RedCode

Pohon bekas kebakaran di area tersebut masih tampak terlihat. Banyak pohon besar tumbang dan patah seolah menunjunjukkan bahwa alam di kaki Gunung Arjuno perlu kembali dilestarikan namun tanpa mematikan penghasilan petani warga setempat.

Ia mengungkapkan, sebelum terjadi kebakaran, di kawasan ini penuh dengan pohon pinus. Dan pasca kebakaran, warga kemudian menanami lahannya dengan wortel.

img_title Tinjau Dampak Gempa Situbondo, Gubernur Khofifah Tekankan Pentingnya Desa Tangguh Bencana

Pada 2023, UT memberikan bantuan Alpukat untuk ditanami di tengah-tengah tanaman wortel dengan jarak 6x6 meter. Dan saat ini, pohon Alpukatnya sudah mulai berbuah.

Joko mengaku tanaman Alpukat yang ditanam di tengah-tengah tanaman wortel dapat mengurangi banjir.

"Mengurangi pecah-pecah banjir dari air karena ada resapannya," ujarnya.

Selain diberikan bantuan tanaman Alpukat, Joko mengaku mendapatkan pendampingan bagaimana mengelola lahan tanpa merusak ekosistem di area lereng Gunung Arjono. Seperti bagaimana membangun aliran air. Selain Alpukat, tanaman lainnya yang ditanam di kawasan ini yaitu Sukun dan Durian.

Tak hanya melestarikan lingkungan di kawasan pertanian kaki Gunung Arjuno, UT juga memberikan pembinaan tentang bagaimana pengelolaan sampah. Edukasi tanggap bencana juga diberikan sejak dini di sekolah lewat program Sobat Tangguh.

Kepala Dusun Sumbergondo, Fachrudin Irfani menceritakan di dusunnya sudah ada pengelolaan sampah sebelum kehadiran UT, namun terbatas, terutama dalam hal pendanaan. Pasalnya, desa tidak bisa menggunakan dana desa seutuhnya untuk pengelolaan sampah.

Sebab sudah ada alokasi anggaran untuk kegiatan lainnya. Dan kehadiran UT, kata Irfan, pengelolaan sampah semakin maksimal.

Halaman Selanjutnya
img_title