Siswa-siswi di Trenggalek Ini Hasilkan Baju Ecoprint Ramah Lingkungan
- Madchan Jazuli
Ia menuturkan sebelum proses steam, terdapat proses fiksasi atau penguncian warna dengan tujuan mengunci warna agar tidak mudah luntur saat dicuci.
"Terus dari semua daun tidak bisa masuk Ecoprint karena daun daun yang teninnya banyak seperti jati, kenikir dan seterusnya," tambahnya.
Setelah ateaming atau mengukus, kain yang sudah tersusun daun dan bunga digulung rapat, lalu dikukus selama beberapa jam. Dilanjutkan dengan proses fiksasi atau penguncian warna dengan tujuan mengunci warna agar tidak mudah luntur saat dicuci.
"Dibandingkan produk lain dengan yang ini Ecoprint itu lebih bisa ramah lingkungan. Karena yang dipakai diperoleh dari alam dan tidak menggunakan bahan kimia sama sekali," pungkasnya.
Sementara, Guru Pendamping Project Kreatif dan Kewirausahaan, Muhammad Oki Mabruri menerangkan untuk proses pembuatan baju setelah menjadi kain membutuhkan waktu kurang lebih satu sampai dua minggu.
"Karena kita mengejar target harus selesai sebelum berakhir pelaporan, jadi harus selesai tepat waktu. Sekitar 1 sampai dua minggu," ulas Muhammad Oki Mabruri.
Ia mengatakan dari bahan kain tersebut bisa dibuat baju, rompi dan tas tootbag. Produk Ecoprint sendiri bisa dibuat berbagai macam fashion, tergantung permintaan.
"Tapi yang kali ini kita fokuskan untuk fashion dan tas totebag sama tas dinding. Lalu, ada sisa dari kain untuk pembuatan kranci atau tali rambut sampai dompet," jelasnya.
Oki melanjutkan semua pengerjaan dilakukan oleh siswa. Pihak guru hanya sekadar mendampingi siswa. Seperti ketika ada kendala, guru bisa memberikan arahan kepada mereka.
"Fokusnya tetap ke siswa kita hanya mendampingi siswa," tandasnya.