BAKTI Kominfo Ajak Ratusan Warga Nias Belajar Gerakan Perubahan ala Banyuwangi
- Istimewa
Surabaya, VIVA Jatim – Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi Kementerian Komunikasi dan Informasi (BAKTI Kominfo) mengajak ratusan warga Nias belajar gerakan perubahan yang ada di Kabupaten Banyuwangi melalui Program Agent of Change yang digelar BAKTI Kominfo bersama Rumah Perubahan, Jumat, 12 Desember 2025.
Proses belajar itu dilakukan secara hybrid site visit, yakni semacam studi banding virtual yang menghubungkan peserta di Gunungsitoli, Nias, dengan berbagai titik perubahan di Banyuwangi, mulai dari kebun organik di kaki Ijen hingga sekolah adat di perahu.
Fasilitator utama Program Agent of Change, Palmy Rawinda Meilala, mengatakan, pendekatan ini membuat peserta merasakan langsung semangat menjalankan gerakan perubahan ala Banyuwangi, bukan sekadar mengetahui teorinya.
"Kami ingin peserta bukan hanya tahu how to, tapi juga merasakan why," ujarnya.
Para peserta ini berasal dari beragam latar belakang pendidik, petani, perawat, kepala desa, hingga pemud yang selama tiga bulan dibentuk untuk menjadi penggerak perubahan di Nias, lengkap dengan pemanfaatan alat digital.
Salah satu kisah yang dipelajari adalah transformasi Desa Mandar. Dulu pesisir desa ini dipenuhi sampah. Namun aksi kecil para pemuda yang rutin membersihkan pantai, menata kawasan, dan membuka warung seafood dengan harga seragam, justru menjadi pemantik perubahan besar.
Ketua Pokdarwis Mandar, Hilman Syah Anwar menambahkan, gerakan akar rumput itu menular menjadi dukungan pemerintah dan pelatihan dari chef hotel internasional. Kini Desa Mandar berkembang menjadi ruang ekonomi baru.
Kisah lain datang dari Glenmore, yang dikenal dengan sistem pertanian terpadunya. Inisiatif ini digerakkan salah satunya oleh dokter muda Anita Yuni Kholillah, pendiri Glenmore Skyfarm.
Dia mengolah sampah organik menjadi maggot untuk pakan ternak, mengolah kompos, hingga menghasilkan sayuran organik yang dipasarkan sambil membagikan konten edukasi melalui Instagram dan TikTok. Kontennya yang menyenangkan sekaligus informatif membuat sains pertanian ikut viral.
"Dari Glenmore, peserta belajar bahwa teknologi bisa menguatkan rantai nilai yang berkelanjutan sekaligus menjual cerita di balik produk," ujar Palmy.
Gerakan lain yang menginspirasi adalah Sekolah Adat Kampung Batara. Di tempat terpencil itu, pendidikan berbasis budaya justru mampu mencegah anak putus sekolah, menekan pernikahan dini, serta menumbuhkan kebanggaan pada kampung halaman.