Diskusi Gotrade di Surabaya, Tekankan Literasi Saham dan Ingatkan Bahaya FOMO

Andika Firnanda
Sumber :
  • Mokhamad Dofir

Surabaya, VIVA JatimGotrade menaruh perhatian khusus pada Jawa Timur sebagai pasar potensial setelah melihat meningkatnya minat masyarakat berinvestasi saham. Melalui acara The Roundtable Surabaya, Gotrade ingin mengedukasi pentingnya literasi keuangan dan peringatan terhadap perilaku FOMO yang kerap menjebak investor pemula.

img_title Diskusi di Surabaya Soroti Penghapusan Konten Digital, Jangan Sampai Ganggu Kemerdekaan Pers

Head of Legal Gotrade Indonesia, Andika Firnanda mengungkapkan, kemudahan akses terhadap saham global, khususnya pasar Amerika Serikat, telah berperan besar dalam mendorong literasi keuangan dan pertumbuhan investor di Indonesia.

Menurut Andika, hadirnya platform yang menyediakan akses ke saham Amerika, mulai dari yang terdaftar di New York Stock Exchange hingga Nasdaq, telah membuka peluang lebih luas bagi investor di Tanah Air.

img_title Apindo Mojokerto Raya dan Serikat Buruh Tolak Tapera

"Literasi keuangan masyarakat kita sebenarnya sudah cukup bagus. Sekarang akses semakin terbuka, masyarakat tidak hanya bisa beli saham perusahaan Indonesia, tetapi juga saham-saham Amerika," ujarnya di sela gelaran The Roundtable Surabaya by Gotrade di Hotel Morazen, Jumat, 12 Desember 2025.

Dia menilai, proyeksi makroekonomi pada tahun 2026 tanah air berjalan positif. Oleh sebab itu, Gotrade menempatkan Jawa Timur sebagai wilayah penting setelah Jakarta. Antusiasme itu terlihat dari jumlah peserta yang hadir dalam acara ini, mencapai sekitar 170 investor pengguna Gotrade dari berbagai kota.

img_title Ajak Anak Muda Cerdas Politik, Relawan Pilar 08 Surabaya Gelar Diskusi Bareng

Andika menyebut, edukasi merupakan fondasi utama bagi investor pemula agar bisa memahami analisis fundamental maupun teknikal dengan benar. Proses edukasi yang efektif kata dia, dimulai dari pemahaman produk investasi seperti saham dan ETF, lalu dilanjutkan dengan pemetaan profil risiko masing-masing.

"Tidak semua investor cocok dengan saham agresif. Kalau mereka risk averse, tentu pilihannya lebih ke saham blue chip atau yang anti siklis," jelasnya.

Andika kemudian mengatakan, kesalahan paling umum yang dilakukan investor pemula adalah terjebak FOMO atau fear of missing out. Banyak investor ikut-ikutan membeli saham yang sedang ramai tanpa analisis mendalam, baik dari sisi fundamental maupun teknikal.

"Misalnya melihat semua orang beli Nvidia, ikut beli tanpa lihat kondisi. Akhirnya beli di pucuk, jual di bawah," ujarnya.

Fenomena ini, lanjut dia, menjadi salah satu fokus edukasi Gotrade melalui analis yang hadir di acara tersebut. Mereka membahas berbagai situasi pasar, termasuk bagaimana kebijakan politik global seperti keputusan Donald Trump bisa memicu reaksi pasar yang signifikan.

Halaman Selanjutnya
img_title